Kapten Chesley “Sully” Sullenberger atau dikenal juga Kapten Sully mengaku tak puas dengan progres perbaikan Boeing 737 MAX. Padahal, usai menjalani uji sertifikasi ulang awal Juli lalu, pesawat pesakitan itu digadang bakal kembali melayani penumpang akhir tahun ini.
Baca juga: Boeing Rayu Maskapai Agar Beli Ratusan 737 MAX yang Batal Terjual
Kapten Sully yang terkenal usai tragedi “Miracle on the Hudson”, sebuah insiden yang menimpa pesawat Airbus A320-214 US Airways flight 1549 akibat dihantam bird strike dan memaksa pesawat melakukan ditching atau mendarat di air, dalam sebuah wawancara, menyoroti crew alerting system atau sistem peringatan kru 737 MAX.
Menurutnya, pesawat perlu melakukan modifikasi tambahan untuk meningkatkan sistem peringatan kru dan menambahkan sensor ketiga untuk input data sensor angle of attack (AoA) pesawat. Saat ini, sensor AoA diketahui hanya ada dua dan dalam insiden 737 MAX yang menimpa Lion Air serta Ethiopian Airlines, dua sensor AoA MAX rusak dan tak bisa mengenali gerak pesawat.
“Saya tidak akan mengatakan, ‘Kita sudah selesai, cukup bagus, lanjutkan’. Orang-orang akan terbang di atasnya dan saya mungkin akan menjadi salah satunya,” kata Kapten Sully, seperti dilaporkan Seattle Times dan Military.com.
“MAX yang diperbarui mungkin akan seaman (model sebelumnya) 737 NG ketika mereka selesai menggunakannya. Tapi itu tidak sebaik yang seharusnya,” tambahnya.
Dengan kondisi keuangan yang agak kacau akibat pandemi virus Corona, proses perbaikan 737 MAX dan 737 NG diprediksi akan menemui kendala baru. Untuk perbaikan MAX saja, hingga Maret lalu, Boeing mengaku telah menghabiskan Rp268 triliun. Seiring berbagai inspeksi oleh otoritas, 737 NG pun ikut keseret dan pada akhirnya juga dituntut melakukan perbaikan.
Namun demikian, Kapten Sully, sang pilot kawakan di insiden Sungai Hudson, menekankan agar Boeing tak sayang uang demi kemanan dan keselamatan pesawat 737 MAX serta 737 NG. “Di MAX, desain sistem kontrol penerbangan tergolong cacat. Mereka telah secara tidak sengaja membuat perangkap (pesawat) maut. Itu masalah waktu sampai itu merenggut nyawa.”
Kapten Sully memang terkenal keras terkait insiden Boeing 737 MAX. Pada bulan Juni 2019, saat bersaksi pada sidang investigasi 737 MAX di hadapan Komite Transportasi DPR AS, ia mengkritik keras kegagalan desain Boeing dan pengawasan FAA.
Baca juga: Setelah Jalani Total Terbang 10 Jam, Proses Sertifikasi Ulang Boeing 737 MAX Dihentikan
“Sangat penting bahwa input Aoa ketiga, atau synthetic airspeed, tersedia di pesawat ini,” kata Kapten Sully.
Atas kritikan keras dan masukan darinya, Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA) pun menekan Boeing agar menambahkan input ketiga AoA pada MAX. Meskipun hal tersebut tak mudah dilakukan, EASA menyebut Boeing siap menjalankan masukan itu pas MAX kembali beroperasi.