Sebagai negara yang tak mempunyai laut, Afghanistan praktis hanya bisa mengandalkan jalur darat dan udara sebagai gerbang utama, baik lalu lintas pertukaran orang maupun barang. Tetapi, baru-baru ini, Taliban sudah mengusai ibu kota negara tersebut, yang di dalamnya ada bandara internasional terpenting di negara itu.
Baca juga: Ingin ‘Kuasai’ Bandara Kabul Afghanistan, Erdogan Minta Restu AS
Celakanya, Bandara Internasional Kabul atau biasa juga disebut Bandara Internasional Hamid Karzai, penyebutan baru bandara setelah penggulingan Taliban oleh presiden pertama Afghanistan yang didukung oleh AS pada 2001 silam, merupakan satu-satunya akses keluar-masuk Afghanistan via udara.
Meski begitu, laporan Associated Press, bandara yang juga disebut sebagai Bandara Khwaja Rawash itu tidak dikuasai Taliban dan betul-betul jadi satu-satunya akses keluar Afghanistan.
Laporan tersebut juga menyebut belakangan semakin banyak arus orang yang ke bandara untuk menyelamatkan diri. Mereka bahkan rela membayar mahal mulai dari perjalanan darat lewat jalan tikus untuk menghindari pos pemeriksaan Taliban sampai harga tiket maskapai.
Rata-rata dari mereka yakin, Taliban akan kembali berkuasa usai didukung AS, situasi yang sama sekali terbalik dimana pada 2001 silam Taliban justru digulingkan oleh opisisi atas dukungan Amerika Serikat.
Dilansir Airport Technology, bandara yang terletak 16 km dari pusat kota Kabul ini diketahui hanya memiliki satu runway sejauh 3.500 m dan lebar 50 m. Cukup panjang dan besar untuk pesawat militer mendarat, mengingat bandara ini juga berfungsi sebagai pangkalan militer. Bandara ini juga cukup besar untuk menampung 100 pesawat.
Bandara Kabul memiliki dua terminal, satu terminal lama untuk penerbangan domestik dan lainnya terminal baru yang didanai pemerintah Jepang sebesar US$35 juta pada tahun 2005-2009 untuk penerbangan internasional.
Di rentang waktu tersebut, sistem penanganan bagasi di terminal lama bandara juga diganti dengan yang baru.
Bandara yang pertama kali dibangun oleh insinyur berkebangsaan Uni Soviet pada tahun 1960 tersebut, setelahnya, juga masih bergantung pada Jepang. Pemerintah Negeri Sakura, pada tahun 2012, mengucurkan dana sebesar US$20 untuk perluasan terminal dan renovasi ATC. Ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas penanganan bandara sebesar tujuh persen.
Sselain itu, dana itu juga digunakan untuk perluasan apron parkir pesawat dan rehabilitasi perkerasan runway, menjadi 14 taxiway dan 19 apron, untuk meningkatkan kapasitas parkir pesawat sebesar 20 persen.
Kendati pernah digempur dua roket Taliban dan menyebabkan satu helikopter presiden dan dua helikopter milik Kementerian Dalam Negeri rusak parah pada tahun 2014 silam, di tahun yang sama, sistem keamanan bandara juga diperkuat atas saran dari Kementerian Luar Negeri.
Itu meliputi peningkatan sistem keamanan di terminal internasional dengan pemasangan mesin X-ray baru dan pendeteksi logam.
Baca juga: Dua Batang Emas Senilai Rp897 Juta Diselundupkan di Sol Sandal Penumpang Pesawat
Proyek ini termasuk menyediakan bus dan memfasilitasi pemeriksaan keamanan untuk menguragi antrean. Sebagaimana sebelumnya, proyek ini juga didanai oleh pemerintah Jepang sebesar US$43 juta.
Bandara ini menjadi basis bagi beberapa maskapai Afghanistan, seperti national flag carrier Ariana Afghan Airlines, Kam Airlines, Safi Airways, dan Pamir Airways. Selain itu, bandara ini juga menyediakan penerbangan dari maskapai Air India, East Horizon Airlines, Emirates, Silk Way Airlines, Turkish Airlines, dan Spicejet