Kecelakaan pesawat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 menyadarkan kita betapa krusialnya penerbangan komersial. Sebab, betapapun hebat dan pentingnya jabatan seseorang, ketika ia menjadi penumpang pesawat komersial, otomatis hidup dan matinya berjalan beriringan di tangan pilot. Singkatnya, ia hanya bisa pasrah ketika kecelakaan terjadi tanpa bisa melarikan diri dari kabin pesawat.
Baca juga: Inilah “Link and Fly,” Kereta Terbang Besutan Perancis! Penumpang Bakal Dijemput Kabin Berjalan
Melarikan diri dari kabin pesawat ketika terjadi kecelakaan sebetulnya bukan gagasan konyol. Sejak tahun 2013 lalu, insinyur asal ukraina, Vladimir Tatarenko, sudah mempunyai desain detachable airplane cabin atau biasa juga disebut removable parachute-equipped airplane cabin atau dalam bahasa disebut pesawat dengan kabin yang bisa dilepas. Konsep ini memungkinkan penumpang pesawat -komersial maupun jet pribadi- terhindar dari maut ketika kecelakaan fatal terjadi.
Teknisnya, saat detik-detik kecelakaan terjadi dan pesawat dirasa sudah tak lagi bisa ditangani, pilot menekan tombol untuk melepas kabin dari pesawat. Kabin, yang dilengkapi dengan parasut dan pelampung di bagian bawah, akan dengan mudah dan aman mendarat dimanapun, baik di air ataupun di darat.
Dalam visualisasi video 1.30 detik yang diunggah di Channel YouTubenya, Vladimir Tatarenko, yang juga mantan insinyur pesawat di era Uni Soviet ini, menujukkan usai mendarat penumpang hanya perlu keluar dari kabin dan menunggu tim SAR datang menjemput.
Akan tetapi, meskipun konsep kabin pesawat yang bisa dilepas terlihat sudah begitu meyakinkan, tetap saja, terdapat beberapa penolakan dari berbagai pihak.
Dilansir Independent, seorang pengamat penerbangan yang juga desainer kabin pesawat menuturkan, desain kabin yang bisa dilepas besutan Vladimir Tatarenko sebetulnya sulit untuk diaplikasikan. Sebab, dari data statistik Boeing, hampir tiga perempat korban tewas dalam insiden kecelakaan pesawat antara 2005 dan 2014 terjadi saat lepas landas dan mendarat. Di kedua posisi tersebut, jarak pesawat dengan daratan masih begitu dekat sehingga kabin tak cukup waktu untuk mendarat dengan mulus.
Namun, Vladimir Tatarenko, yang sudah malang melintang di dunia penerbangan, dimana ia termasuk ke dalam salah satu insinyur yang mengembangkan pesawat terbesar di dunia, Antonov An-225 Mriya, tentu paham betul bahwa desain kabin yang dapat dilepas besutannya harus dibuat berdasarkan data.
Menariknya, data yang dipakai oleh Tatarenko cenderung berbeda dengan data dari Boeing. Menurut ICAO, selama 10 tahun terakhir atau sejak 2015 tahun ke belakang, dimana Tatarenko mulai memperkenalkan konsep andalannya itu, 8 persen kecelakaan terjadi saat lepas landas, 21 persen saat mendarat, dan sisanya 71 persen saat cruising flight atau saat berada di ketinggian.
Lebih lanjut, disebutkan, penyebabnya 75 persen akibat human error atau kesalahan manusia. Adapun sisanya karena kelalaian aeromekanik. Mengurangi pengaruh manusia untuk meningkatkan keselamatan adalah mustahil. Maka dari itu dibutuhkan terobosan baru pada desain pesawat sehingga terciptalah ide kabin pesawat yang bisa dilepas.
Dalam kondisi ketika pesawat dekat dengan daratan, kabin pesawat yang dilepas sebetulnya masih belum tentu bisa menyelamatkan penumpang dari maut. Tetapi, diakui atau tidak, konsep tersebut setidaknya meningkatkan persentase kemungkinan penumpang selamat ketimbang tetap berada di dalam kabin yang menyatu dengan pesawat saat kecelakaan.
Hanya saja, konsep ini tetap terganjal masalah lain. Desainnya konsep ini bisa dibilang mahal. Menurut hitung-hitungan Tatarenko, dibutuhkan US$1 juta untuk memproduksi satu kapsul. Ketika menawarkan ide ini ke Antonov, ia juga merinci bahwa anggaran sebesar US$40-60 juta juga harus disiapkan untuk uji coba pemasangan kapsul di tiga pesawat jet Ukraina AN-148 keluaran perusahaan.
Baca juga: Intip Paten Airbus untuk Konsep Donat Terbang, Pesawat Andalan di Masa Depan?
Selain mendekati Antonov, Tatarenko juga mencoba mengirimkan proposal ide parasut pesawat itu ke Kementerian Transportasi Ukraina. Namun lagi-lagi, idenya harus ditolak dengan alasan keuangan.
Tatarenko mengatakan para investor dari Kanada, Brasil, AS, dan Rusia pernah menghubunginya dan menawarkan untuk membeli hak paten sistem tersebut. Tatarenko menolak penawaran tersebut karena ingin perusahaan pesawat Ukraina yang menerapkan temuannya. Dan hingga saat ini, belum ada investor Ukraina yang tertarik mendanai idenya tersebut.