Demi mendorong kerja sama bilateral di sektor ekonomi, Jepang dan Rusia sepakat untuk mengembangkan rute pengiriman barang melalui Jalur Kereta Trans-Siberia. Selain itu, kerja sama tersebut juga diproyeksikan untuk membangun kepercayaan diantara kedua belah pihak untuk menyelesaikan sengketa teritorial yang sudah ‘berkerak’.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman businesstimes.com.sg (21/8/2018), kedua pemerintah percaya bahwa kerja sama tersebut mampu memberikan energi pada third distribution channel, menyusul jalur udara dan laut. Menurut sumber yang mengetahui tentang diplomasi antara pihak Jepang dan Rusia, uji untuk memverifikasi distribusi menggunakan Kereta Api Trans-Siberia akan dimulai sekitar tanggal 11 – 13 September mendatang, ketika Eastern Economic Forum berlangsung di Vladivostok, Rusia.
Pada kesempatan itu pula, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dijadwalkan untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Sekiranya lima hingga 10 perusahaan, terutama perusahaan distribusi Jepang, tengah mempertimbangkan untuk berpartisipasi dalam pengujian ini. Mereka akan mempelajari sejumlah faktor seperti biaya dan waktu transportasi, prosedur administratif yang diperlukan untuk bea cukai, dan proses impor dan ekspor.
Tidak hanya itu, beberapa calon kendala seperti pengaruh getaran hingga perbedaan suhu antara kedua negara ini juga akan turut diperiksa dalam pengujian tersebut. Guna mengatasi kemungkinan masalah di jalur tersebut, pemerintah juga rencananya akan bekerja sama dengan pihak swasta. Hingga saat ini, kedua belah pihak masih mengandalkan jalur udara dan laut dalam hal pengiriman kargo, dikarenakan kurangnya informasi yang jelas hingga masalah prosedur pengiriman yang rumit.
Jika ditempuh dengan menggunakan jalur laut (via Samudera Hindia), perjalanan antara kedua negara memakan waktu sekitar 53 hingga 62 hari – tergantung dari cuaca. Sementara jika ditempuh dengan menggunakan kereta api, maka waktu perjalanan yang dibutuhkan adalah 20 hingga 27 hari. Itu berarti setengah dari waktu perjalanan via jalur laut.
Adapun kemungkinan rute yang digunakan semisal jalur perkeretaapian ini disetujui adalah barang yang hendak dikirim melalui pelabuhan manapun di Jepang akan tetap menempuh jalur laut menuju Vladivostok, lalu barang tersebut akan dilanjutkan menuju Moskow via jalur kereta api. Selain lebih mempersingkat waktu pengiriman, penggunaan jalur kereta api ini juga digadang-gadang mampu menekan biaya pengiriman sekitar 40 persen.
Baca Juga: Jalur Kereta Trans-Siberia Capai Usia 100 Tahun
Seperti yang diketahui bersama, Trans-Siberia merupakan jalur kereta api yang membentang sejauh 9.300km dari kota Vladivostok menuju Moskow. Semisal ditelaah lebih mendalam, eksistensi dari jalur ini bisa dibilang cukup vital untuk meningkatkan sektor perdagangan antara Jepang dan Eropa. “Jika hubungan ekonomi antara Jepang dan Rusia diperkuat melalui sektor transportasi, maka kita berharap hal tersebut mampu membawa dampak positif pada penyelesaian masalah di wilayah utara,” tutur narasumber di pemerintah Jepang.