Era taksi terbang semakin menggeliat. Tak terhitung jumlah pabrikan yang coba mengeluarkan produk taksi terbang atau biasa juga disebut taksi udara. Desain dan konsep yang ditanamkan pun juga cukup beragam. Volocopter, misalnya, percaya pada konsep pesawat kecil dengan puluhan baling-baling kecil. Lain halnya dengan Hyundai S-A1, yang lebih memilih menggunakan sistem baling-baling multi-fungsi dengan sayap konvensional. Begitu juga dengan Jaunt Air Mobility LCC yang lebih memilih desain taksi udara gyrodyne.
Baca juga: Sukses Terbang Perdana, Taksi Udara Uber Mahakarya Boeing Mengudara di Tahun 2023
Seperti dikutip dari newatlas.com, Jaunt Air Mobility LCC atau Jaunt telah merilis desain taksi terbang miliknya dengan teknologi Reduced Rotor Operating Speed (ROSA) yang merupakan sebuah gyrodyne. Gyrodyne sendiri adalah jenis pesawat VTOL (Vertical Takeoff and Landing) dengan sistem mirip helikopter yang digerakkan oleh mesin untuk lepas landas dan mendarat dengan dilengkapai satu atau lebih baling-baling atau propeller konvensional untuk memberikan daya dorong ke depan.
Begitu juga dengan Jaunt, baling-baling utama pada bagian atas berfungsi seperti helikopter untuk terbang serta mendarat secara vertikal. Setelah taksi terbang mengudara, empat baling-baling listrik pada sayap kemudian memberikan daya dorong ke depan layaknya pesawat pada umumnya. Ketika baling-baling listrik tersebut bekerja, baling-baling atau rotor utama kemudian perlahan mengurangi daya sehingga daya dorong lebih maksimal
Desain tersebut diakui Jaunt merupakan sebuah pengembangan dari desain CarterCopter yang dikembangkan pada 2004 silam. Sejauh ini, Jaunt mengklaim taksi terbang keluarannya sudah melakukan lebih dari 100 jam uji terbang serta 1.000 kali uji lepas landas dan mendarat.
Dari sisi keamanan, taksi terbang ROSA dengan konsep gyrodyne tersebut setidaknya memiliki beberapa keunggulan. Ketika baling-baling listrik kehilangan daya karena satu dan lain hal, maka taksi terbang Jaunt masih dapat mendarat dengan aman dengan menggunakan rotor utama layaknya pendaratan pada helikopter. Kelebihan lainnya, ketika taksi terbang ROSA melakukan penerbangan mendatar, rotor utama tidak lagi menanggung beban karena seluruh beban sepenuhnya sudah diambil alih oleh baling-baling listrik pada sayap. Hasilnya tingkat kebisingan pun dapat ditekan (whisper quiet). Bahkan, diklaim 50-66 persen lebih halus dibanding helikopter ataupun pesawat fixed-wing pada umumnya.
Selain itu, masih dari segi keamanan, dengan tidak adanya bahan bakar cair yang mudah terbakar, serta dimensi sayap yang jauh lebih rendah dari pada pesawat pada umumnya, membuat wahana taksi udara Jaunt diklaim jauh lebih aman, baik di darat maupun di udara. Bahkan, ketika di darat, taksi udara Jaunt juga diklaim cocok untuk digunakan hingga tataran kompleks perumahan. Di samping itu, dengan teknologi 100 persen listrik, tentu saja taksi udara Jaunt juga lebih ramah lingkungan.
Baca juga: Dari Selandia Baru, Boeing Siap Wujudkan Taksi Udara Listrik Otonom Pertama di Dunia
Belum lagi berbagai teknologi lainnya seperti radar cuaca, system with advanced flight control, hingga sistem kontrol Fly-By-Wire, yang biasa dijumpai di pesawat, membuat taksi terbang Jaunt dinilai menjadi taksi udara dengan sistem VTOL paling aman di dunia. Yang paling mengagumkan adalah teknologi LevelFly yang membantu kenyaman di dalam kabin dengan menyeimbangkan posisi pesawat. Singkatnya, ketika penumpang di dalam kabin duduk tak beraturan atau melakukan terlalu banyak gerakan sehingga menyebabkan taksi terbang menjadi tidak seimbang, tiang rotor utama dapat digerakan untuk menyesuaikan pesawat agar tetap stabil. Cukup nyaman, bukan?
Menurut Jaunt, taksi udara keluaran mereka diklaim mampu terbang dengan kecepatan maksimal mencapai 344 km per jam dan ketinggian maksimal mencapai 18.000 kaki. Selain itu, taksi udara Jaunt dilaporkan mampu mengangkut empat penumpang ditambah satu pilot. Dilihat dari situs resmi perusahaan, Jaunt menargetkan taksi udara ROSA tersebut dapat melakukan penerbangan perdana pada 2022 mendatang, kemudian memulai uji sertifikasi pada tahun berikutnya, menpatakan sertifikasi dari FAA pada 2025 dan mulai beroperasi secara komersil dengan tambahan kemampuan taksi swaterbang atau otomatis 2030 mendatang.