Komunikasi merupakan harga mati dalam pengoperasian bandara di seluruh dunia. Karenanya, kesalahan teknis atau kerusakan pada sistem komunikasi bandara akan sangat merugikan secara bisnis maupun sosial akibat kemungkinan jatuhnya korban, luka maupun jiwa.
Baca juga: Perang Dunia I Dorong Ilmuan Inggris Kembangkan Telepon Nirkabel di Kokpit
Sebelum tahun 2016, sistem komunikasi bandara mayoritas menggunakan frekuensi radio. Bukan hanya rentan error, frekuensi radio juga tak aman karena tidak terenskripsi. Bandara memang masih punya sistem komunikasi berbasis kabel, dalam hal ini telepon rumah. Namun, tetap saja, itu masih dianggap tertinggal.
Sebab, teknologi nirkabel yang tersedia bagi penumpang pada perangkat portabel mereka, entah itu ponsel, laptop, dan lain sebagainya mengalahkan bandwidth yang tersedia bagi pilot di kokpit untuk dapat berkomunikasi dengan baik.
Lagi pula, dengan perbedaan kultur, gaya bahasa, serta aksen, terkadang komunikasi suara antara pilot dan petugas menara kontrol justru menimbulkan miskomunikasi dan pada akhirnya acap kali malah membahayakan penerbangan.
Oleh karena itu, sejak beberapa tahun lalu, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), melalui para insinyurnya berusaha mengembangkan apa yang disebut Aeronautical Mobile Aircraft Communication System (AeroMACS).
AeroMACS memungkinkan menara kontrol (ATC) bandara melakukan komunikasi dengan pilot di kokpit secara digital, bukan komunikasi suara seperti yang ada kebanyakan saat ini. Itu berarti, pilot bukan tak mungkin akan dibuat ‘bisu’ alias tak banyak bercakap-cakap, dalam kaitannya dengan menara kontrol, efek dari kehadiran ini. AeroMACS diklaim mampu membuat traffic di runway lebih sedikit karena prosesnya lebih cepat.
Dilansir Simple Flying, teknologi AeroMACS diklaim juga lebih aman (terenskripsi), berkecepatan tinggi serta lebih lengkap karena menampilkan data berbasis diagram, peta 3D, serta detail informasi dan petunjuk penerbangan.
“Jaringan data digital baru (AeroMCAS), terenkripsi, berkecepatan tinggi akan merampingkan komunikasi antara awak darat dan pengawas lalu lintas udara,” kata NASA di situs remsminya.
“Pesan yang dikirim ke pilot setelah pesawat berada di darat (bandara) dapat mencakup diagram dan peta bergaya GPS, serta instruksi teks untuk navigasi landasan pacu, detail tugas gerbang, dan arah navigasi permukaan,” bunyi lain tulisan NASA di laman resminya.
Sebelum kehadiran sistem komunikasi digital bandara AeroMACS besutan NASA, otoritas penerbangan di lebih dari 150 negara telah mengadopsi standar Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX). WiMAX yang digunakan sejak tahun 2007an menggunakan infrastruktur jaringan seluler yang dapat disesuaikan untuk frekuensi baru; kecuali spektrum 5091 hingga 5150 megahertz, yang line-nya sengaja ditahan untuk menghadapai penerbangan krusial.
Seiring tantangan teknologi yang begitu rumit, oleh NASA dan divisi Broadband Wireless Access (BWA) Alvarion Technologies (sekarang diakuisisi oleh Telrad Networks), hardware WiMAX kemudian dimodifikasi.
Baca juga: Ketika Fly by Wire Dianggap Usang, Teknologi Fiber Optic “Fly by Light” Bersiap Gantikan
Usai dimodifikasi, WiMAX pun menjadi AeroMACS dengan beberapa keunggulan, seperti lebih aman, cepat, efektif, efisien, dan tentu saja, lebih murah dioperasikan dibanding sistem biasa.
Saat ini, setelah empat tahun lalu untuk pertama kalinya NASA berhasil mengirimkan data penerbangan seperti informasi rute dan cuaca ke pesawat yang sedang taxiing melalui sistem komunikasi nirkabel (digital), AeroMACS sudah digunakan di lebih dari 50 bandara di 15 negara. Dibutuhkan, setidaknya dua dekade untuk membuat sekitar 40 ribu bandara menggunakan itu di seluruh dunia.