Saturday, April 5, 2025
HomeHot NewsIni Penyebab KRL Berjalan Perlahan di Petak Cilebut – Bojonggede

Ini Penyebab KRL Berjalan Perlahan di Petak Cilebut – Bojonggede

Bagi pengguna KRL tentu pernah merasakan bahkan bertanya–tanya saat melewati antara Stasiun Cilebut dengan Stasiun Bojonggede dari arah Bogor berjalan perlahan. Padahal tidak adanya perlintasan sebidang bahkan pemukiman warga yang sangat dekat dengan rel kereta api. Yang ada hanyalah pepohonan serta tebing yang cukup curam yang dibawahnya terdapat beberapa rumah yang berdiri tegak. Namun dijalur sebelahnya kecepatan KRL berjalan normal dan maksimal. Kira – kira kenapa, ya?

Baca juga: Kereta Api di Indonesia Masih Suka Telat, Ini Penyebabnya!

Setelah tim kabarpenumpang.com menelusuri area tersebut terdapat tanda batas kecepatan yang mengharuskan setiap kereta api yang melintas harus membatasi kecepatannya dibawah 20 kilometer per jam. Karena sebelum berada di lokasi KM 45+200 sampai KM 45+500 terdapat tanda isyarat Semboyan 2A dan Semboyan 2B. Semboyan 2A berupa satu tanda atau rambu berbentuk bulat yang berwarna kuning yang yang mengisyaratkan bahwa jalur kereta api yang akan dilewati berstatus kurang aman, kereta api yang melewatinya harus berhati-hati dengan pembatasan kecepatan maksimal 40 kilometer per jam.

Beberapa ratus meter setelah Semboyan 2A terdapat Semboyan 2B yaitu dua rambu berbentuk bulat yang berwarna kuning yang mengisyaratkan bahwa jalur kereta api yang akan dilewati berstatus kurang aman, kereta api yang melewatinya harus berhati-hati dengan pembatasan kecepatan maksimal 20 kilometer per jam. Barulah melewati jalur yang diharuskan berjalan dibawah 20 kilometer per jam.

KRL akan memasuki jalur rawan dengan pemasabgan rambu Semboyan 2B dengan kecepatan maksimal 20 kilometer per jam. (Foto: Sendy Prasetya)

Setelah jalur kereta api melewati titik aman terdapat pemasangan rambu Semboyan 2H yaitu semboyan tetap yang ditandai dengan papan hijau dengan huruf H berwarna putih yang menunjukkan bahwa kereta api mulai melaju dengan kecepatan yang diizinkan.
Tak hanya itu, di KM 45+300 terdapat bangunan minimalis di samping rel kereta api yang mengarah rute Bogor – Jakarta yaitu Pos Rawan. Bangunan ini merupakan area pemantauan rawan bencana alam seperti tanah longsor akibat curah hujan tinggi yang berada di area tersebut. Jadi semua kereta api yang melintas harus melambat kecepatannya agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Bencana Tanah Longsor, Hambat Perjalanan Kereta Api
Seperti di beritakan media pada 22 Nopember 2012 lalu jalur kereta api antara Stasiun Cilebut dan Stasiun Bojonggede alami bencana longsor hingga menyebabkan rel kereta api menggantung karena tanah yang amblas.

KRL berjalan perlahan melewati jalur rawan di KM 45+300 yang terdapat bangunan Pos Rawan. (Foto: Sendy Prasetya)

Tanah longsor terjadi di Desa Cilebut Tinur, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. Amblasnya tanah yang membuat rel menggantung memiliki kedalaman 20 meter.
Menurut informasi bahwa longsor terjadi pada sore hari saat hujan lebat terjadi dikawasan tersebut karena penyempitan Sungai Kalibaru akibat adanya pemukiman di bantaran kali. Sehingga pas kejadian hujan besar membuat air meluap ditambah saluran irigasi sudah dangkal dan banyak sampah. Perjalanan KRL saat itu lumpuh total dan secara otomatis tidak bisa melanjutkan perjalanan dari Bogor ke Jakarta.

Longsor terjadi di KM 45+200 – KM 45+500 terjadi saat curah hujan tinggi. (Foto: Sendy Prasetya)

Hingga saat ini jalur kereta api di kawasan itu masih terus dipantau oleh beberapa pekerja dari KAI secara bergilir. Curah hujan yang cukup tinggi masih mengguyur di kawasan itu membuat pekerja dibidangnya harus ekstra fokus jika sewaktu – waktu ada hal yang tidak diduga terjadi. Area disekitaran jalur kereta api dan bekas longsor telah dibenahi dengan menambahkan batu dan beton guna mencegah longsor susulan terjadi.

Baca juga: Railfans Harus Tahu, Ini Jawaban Mengapa Jalur 1 atau 2 di Stasiun KRL Terkadang Berlawanan Arah

Perjalanan kereta api dari arah Bogor ke Jakarta tetap masih dibatasi kecepatannya. Selain rawan longsor, rel kereta api juga menikung tajam dan belum ditambahkan rel gongsol atau penahan roda saat ditikungan tajam. Seharusnya rel gongsol dipakai guna menghindari anjlok pada roda kereta api sehingga kereta api tidak keluar jalur. (PRAS – Cinta Kereta Api)






















RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru