Sunday, April 6, 2025
HomeHot NewsIni Kecelakaan Pesawat Tragis Berakhir Manis yang Paling Terkenal di Dunia

Ini Kecelakaan Pesawat Tragis Berakhir Manis yang Paling Terkenal di Dunia

Kecelakaan pesawat identik dengan hal tragis yang menimbulkan korban jiwa cukup banyak. Namun, bak melawan takdir, kecelakaan pesawat tak selamanya berujung maut. Di beberapa kasus kecelakaan pesawat di dunia justru berakhir manis. Kecelakaan pesawat manakah itu?

Baca juga: Kenang Peristiwa “Miracle on the Hudson”, AS Bangun Museum “Kapten Sully”

Menurut salah satu pengguna Quora, kecelakaan pesawat tragis yang berakhir senyum atau dalam istilaha lain disebut sebagai happy ending adalah pesawat Boeing 767 Air Canada dengan nomor penerbangan 143 (flight 143). Bagaimana tidak, pesawat yang membawa 61 penumpang dan delapan kru itu kehabisan bahan bakar saat di ketinggian 41 ribu kaki atau sekitar 12.500 meter.

Berkat pengalaman dan skill pilot dan kopilot serta sedikit keberuntungan, pesawat berhasil melewati ‘kecelakaan tragis’ itu dengan manis dan mendarat darurat dengan selamat di Pangkalan Angkatan Udara bekas perang dunia. Peristiwa ini dikenal peristiwa Kimli Glider.

Sebagaimana peristiwa lainnya di dunia aviasi, kisah Gimli Glider sebetulnya bermula dari masalah kecil. Namun, karena masalah kecil itu terus berlangsung, berpadu dengan masalah lainnya, baik teknis maupun non teknis, Gimli Glider pun akhirnya tercatat dalam sejarah. Tak hanya, sang kapten pilot, yang semula mendapat sanksi keras dari perusahaan, justru dianugerahi Fédération Aéronautique Internationale (FAI) Diploma for Outstanding Airmanship untuk pertama kalinya.

pada 22 Juli 1983, pesawat Air Canada Boeing 767 dalam penerbangan dari Montreal ke Edmonton via Ottawa, Kanada, mengalami masalah.

Kapten Robert Pearson, 48 tahun, dengan pengalaman 15.000 jam terbang, dan kopilot Maurice Quintal, 36 tahun, dengan waktu terbang 7.000 jam, mendapati bahwa alarm tekanan bahan bakar rendah pesawat yang dikemudikannya tiba-tiba berbunyi.

Ketika itu, pilot berasumsi bahwa bahan bakar masih banyak, merujuk pada indikator Flight Management Computer (FMC). Alarm pun dimatikan. Tak lama berselang, alarm yang sama kembali berbunyi dan kru pun memutuskan untuk mendarat di Winnipeg, berjarak sekitar 120 mil.

Saat pesawat mulai turun, mesin kiri mati, diikuti dengan ledakan pada mesin kanan. Alhasil, pesawat pun kehabisan bahan bakar di ketinggian 41 ribu kaki atau 12 kilometer dari permukaan tanah.

Habisnya bahan bakar ini terjadi saat pesawat sudah melakukan sekitar setengah perjalanan. Habisnya bahan bakar juga membuat semua mesin serta panel instrumen kokpit elektronik mati. Saat itu, Boeing 767-200 memang jadi salah pesawat jet pertama yang mengadopsi sistem instrumen penerbangan elektronik yang didukung oleh mesin. Praktis, ketika mesin mati, panel juga ikut mati.

Untungnya, turbin udara ram (RAT) cukup untuk memberi daya pada instrumen penerbangan darurat untuk mendukung proses pendaratan. Hanya saja, itu tidak termasuk vertical speed indicator yang menunjukkan kecepatan pesawat dan lokasi dimana pesawat harus mendarat.

Tak hanya itu, lokasi pendaratan di Gimli, Pangkalan Angkatan Udara bekas perang dunia yang sudah beralih fungsi jadi lokasi balapan mobil, berjarak 20 mil lebih dekat daripada Winnipeg, tengah diadakan balapan drag dan dipadati oleh banyak orang.

Baca juga: Mengenang Insiden Garuda Indonesia GA981, Berhasil Mendarat Mulus Meski Landing Gear ‘Pincang’

Minimnya informasi pendaratan -akibat panel instrumen kokpit mati- tak membuat Kapten Robert Pearson menyerah. Dengan pengalamannya menerbangkan glider (pesawat tanpa mesin) saat mengikuti pelatihan di angkatan bersenjata AS, Kapten Robert Pearson, mampu menerbangkan pesawat Air Canada di udara tanpa mesin.

Kapten Robert Pearseon, mampu mendaratkan pesawatnya di bekas markas angkatan udara Kanada di Gimli, Manitoba. Seluruh penumpang dan kru pesawat Air Canada yang berjumlah 69 orang berhasil selamat. Hanya sedikit dari mereka mengalami luka-luka ringan.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru