Buntut invasi Rusia ke Ukraina rupanya berimbas ke Negeri Sakura, dimana telah tercipta diskriminasi atas beragam hal yang ‘berbau’ Rusia. Sikap Pemerintah Jepang yang mendukung posisi dan perjuangan Ukraina, telah memicu sentimen di fasilitas transportasi.
Baca juga: Akhirnya Robot Pembuat Mie Soba Mulai Beroperasi di Stasiun Jepang
KabarPenumpang.com dari soranews24.com (19/4/2022), diskriminasi tersebut terjadi di Stasiun Ebisu yang dioperasikan oleh East Japan Railway Company (JR East) dan operator kereta bawah tanah Tokyo Metro. Insiden tersebut karena di dalam stasiun ini tepat sebelum keluar dari gerbang tiket, ada empat rambu di atas kepala yang memandu pemindahan penumpang ke Jalur Hibiya yang ditulis dalam bahasa Jepang, Inggris, Korea dan Rusia.
Namun pada 7 April kemarin, bahasa Rusia itu menghilang secara misterius dan ada selembar kertas putih panjang yang menutupinya. Tak hanya itu, ada tanda yang lebih kecil yang bertuliskan “調整中” (“chhousei chuu” atau “sedang disesuaikan”) menempel di atasnya.
Hilangnya bahasa Rusia yang secara tiba-tiba itu disadari oleh para penumpang. Mereka bertanya mengapa itu satu-satunya tanda yang dihapus dari tampilan di media sosial. Mengingat sentimen anti-Rusia saat ini meningkat secara internasional karena invasi Rusia ke Ukraina, banyak yang melihatnya sebagai langkah diskriminatif.
Ini kemudian menggelitik minat media yang berbondong ke Stasiun Ebisu untuk melaporkan situasi dan menanyai petugas stasiun terkait hal itu. Adanya insiden ini, JR East mengungkapkan bahwa menutup tanda tersebut karena dua alasan yakni pengunjung asing berkurang karena pandemi dan adanya keluhan pelanggan yang mengatakan tanda berbahasa Rusia tidak menyenangkan.
Tanda itu ditutup hingga 14 April kemarin, tetapi setelah perhatian media menyebar atas insiden tersebut, JR East memutuskan untuk mengubah pendiriannya pada tanda tersebut, dengan mengatakan bahwa perusahaan harus mengembalikannya ke keadaan semula, mengingat kebutuhan pelanggan mereka.
Tanda berbahasa Rusia yang dianggap merusak pemandangan karena invasi Rusia ke Ukraina, awalnya dipasang untuk membantu pengunjung asing ke Jepang selama Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo.
Meskipun Olimpiade sudah berakhir, penumpang berbahasa Rusia masih menggunakan stasiun ini, karena stasiun ini menawarkan rute langsung ke Kedutaan Besar Rusia di Minato Ward Tokyo. Pemindahan ke Jalur Hibiya dapat menjadi hal yang membingungkan, itulah sebabnya mengapa rambu-rambu diperlukan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Korea, karena jalur tersebut juga menawarkan rute langsung ke Kedutaan Besar Republik Korea (Korea Utara).
Dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dengan menyembunyikan tanda berbahasa Rusia di stasiun, JR East akhirnya mendiskriminasi segmen dari mereka juga.
“Kami meminta maaf karena menyebabkan kesalahpahaman yang terkait dengan diskriminasi rasial,” ujar JR East.
Baca juga: Keluarkan Unek-Unek Selama Bekerja, Petugas Stasiun Kereta Api Jepang Curhat di Twitter
Sangat menggembirakan mengetahui bahwa pelanggan Jepang tidak takut untuk menyebut praktik diskriminatif saat mereka melihatnya. Karena, seperti yang dipelajari sebelumnya dengan kasus vandalisme tanda di toko Rusia di Tokyo bulan lalu, permusuhan terhadap orang Rusia saat ini sayangnya mengingatkan pada permusuhan terhadap orang Asia atas pandemi virus corona.