Kecelakaan fatal Boieng 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182 disinyalir akibat usia pesawat yang terlalu tua. Maklum, pesawat tersebut sudah mau menginjak 27 tahun sebelum berakhir nahas di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.
Baca juga: McDonnell Douglas Dakota DC-3 – Si Tua-Tua Keladi Setelah 81 Mengudara
Akan tetapi, tudingan bahwa kecelakaan tersebut disebabkan faktor usia pesawat menjadi penyebab kecelakaan Sriwijaya Air PK-CLC rasanya bias.
Pengamat penerbangan Gerry Soejatman, dalam sebuah wawancara di program berita CNN Indonesia, pernah menyebut bahwa pesawat sejatinya adalah benda mati. Begitu komponen yang ada sudah tak lagi berfungsi secara optimal, ia tinggal diganti saja dengan yang baru dan pesawat pun sehat kembali. Beda dengan manusia sebagai benda hidup yang meski digonta-ganti komponen atau organ tubuhnya, tetap saja, akan ada masalah. Sebab, faktor usia amat menentukan.
Lagi pula, pesawat yang sudah melewati batas maksimum operasional dan masih eksis terus sampai setidaknya belakangan ini juga cukup banyak. Tengok saja pesawat Hawker Siddeley HS 748 C-FCSE. Menukil Simple Flying, pesawat berusia 51 tahun itu sempat menjadi andalan maskapai regional Kanada, Air North, untuk melahap rute-rute pendek point to point.
Sekalipun 21 Januari 2021 lalu pesawat dengan jangkauan terbang mencapai 1.700 kilometer dalam kondisi muatan penuh ini sudah melakukan penerbangan terakhir alias pensiun bersama Air North, namun bukan berarti pesawat mangkrak.
View this post on Instagram
Pesawat berkapasitas antara 12 sampai 40 penumpang, dengan konfigurasi 2-2 ini, dilaporkan tetap terus beroperasi sampai jangka waktu yang tak bisa ditentukan bersama Wasaya Airways, maskapai penerbangan domestik milik First Nations yang berpusat di Thunder Bay, Ontario, Kanada.
Sebelum jatuh ke tangan Air North, pesawat ini disebut sempat dioperasikan maskapai legendaris Indonesia, Bouraq Indonesia Airlines. Saat bersama Bouraq, Hawker Siddeley 748 diregistrasi sebagai PK-HIS pada tahun 1979, berubah dari setahun sebelumnya sebagai PK-IHB.
Tak banyak informasi bagaimana sepak terjang pesawat ini saat bersama Bouraq. Namun, pesawat nyaris tak pernah mengalami kecelakaan fatal atau kendala teknis apapun dan terus menemani Bouraq berkiprah di jagat dirgantara Indonesia sampai menjelang pensiun.
Sekilas tentang Bouraq, maskapai yang menggunakan nama dari kendaraan Nabi Muhammad SAW ini berdiri di tahun 1970. Tidaklah mudah bagi Jerry A. Sumendap, pendiri Bouraq Indonesia Airlines, dalam menjalankan bisnis di sektor aviasi Indonesia. Butuh waktu sekitar 10 tahun bagi Bouraq untuk mencapai kejayaannya.
Namun sayang, pada tahun 1995, Jerry A. Sumendap harus menghadap Sang Ilahi dan kursi kepemimpinan diambil alih oleh Danny Sumendap.
Di bawah tangan Danny, Bouraq mengalami restrukturisasi besar-besaran guna mempertahankan diri di tengah ketatnya persaingan antar maskapai. Tapi takdir berkata lain, di tahun 2005, Bouraq Indonesia Airlines dinyatakan pailit dan mengakhiri semua pengoperasian armadanya.