Pada hari ini, 19 tahun lalu, bertepatan dengan 22 November 2003, pesawat kargo Airbus A300B4-200F milik raksasa kargo asal Jerman, DHL, dirudal oleh simpatisan pemimpin Irak, Saddam Hussein, tak lama setelah lepas landas dari Bandara Internasional Baghdad. Akibatnya, pesawat terbakar pada bagian mesin dan terpaksa mendarat darurat. Beruntung, tak ada korban jiwa akibat insiden ini.
Baca juga: Hari Ini, 24 Tahun Lalu, Lion Air Flight 602 Jatuh Dirudal Tak Lama Setelah Kerusuhan 98
Pesawat kargo Airbus A300B4-200F yang dioperasikan oleh European Air Transport Leipzig diketahui berangkat dari Bandara Internasional Baghdad pada pukul 09:30 pagi waktu setempat.
Sebelumnya, bandara tersebut dikenal sebagai Bandara Internasional Saddam, didasari pada nama Presiden Irak saat itu, Saddam Hussein. Sejak April 2003, itu diganti usai Amerika Serikat (AS) menduduki Irak menjadi Bandara Internasional Baghdad.
Dari Baghdad, pesawat menuju Bandara International Bahrain yang menjadi hub DHL International Aviation Middle East saat itu. Dari data GCMap.com, Baghdad dan Bahrain berjarak sekitar 991 km.
Pesawat diawaki oleh kapten pilot dan kopilot asal Belgia dan satu flight engineer asal Skotlandia dengan jam terbang 13.400. Di Airbus A300, kapten pilot memiliki pengalaman 3.300 jam terbang. Sedangkan kopilot baru mencapai setengahnya dengan 1.275 jam terbang.
Sejak perang dengan AS meletus pada awal tahun 2000, situasi di Irak mencekam. Karenanya, kru pesawat yang lepas landas dari Bandara Baghdad akan cepat-cepat climbing ke ketinggian jelajah untuk menghindari serangan rudal; termasuk pesawat A300 DHL.
Namun, apa boleh buat, sebelum mencapai ketinggian jelajah atau saat masih berada di jarak tembak rudal (sekitar ketinggian 8.000 kaki), milisi pro Saddam Hussein yang tergabung dalam Fedayeen Saddam group menembakkan rudal darat-ke-udara 9K34 Strela-3 dan berhasil mengenai pesawat.
Rudal mengenai sayap bagian kiri, membuat mesin terbakar, wingtip hancur, menghancurkan permukaan trailing-edge pada sayap yang berfungsi untuk membantu pengereman, tidak berfungsinya hydraulic pressure di A300 flight control system, dan pada akhirnya memaksa pesawat mendarat darurat.
Kehilangan sistem hidrolik membuat pesawat sulit dikontrol. Tanpa flight control surfaces dalam kondisi genting seperti itu, kru kokpit harus memkasimalkan penggunaan mesin sebelah kanan untuk proses pendaratan. Sebagai upaya untuk menurunkan kecepatan pesawat, landing gear dikeluarkan segera.
Kru kokpit butuh sekitar 10 menit untuk menyesuaikan diri dengan cara baru mengontrol pesawat untuk pendaratan tanpa menggunakan apapun kecuali engine power.
Baca juga: Bukan Hanya Cathay Pacific, Ini Deretan Pesawat Sipil yang Nyaris Kena Rudal
Proses pendaratan dilakukan dengan sangat hati-hati lantaran kebocoran bahan bakar seiring hancurnya sayap kiri. Pesawat akhirnya mendarat sempurna di runway 33R yang memiliki panjang 4.000 meter tanpa ada korban jiwa maupun luka dengan menggunakan special spiral landing technique untuk menghindari serangan.
Setelah serangan tersebut, DHL menangguhkan semua penerbangan ke Irak. Demikian juga dengan maskapai Yordania Royal Wings yang ketika itu melayani satu-satunya penerbangan komersial dari dan ke Baghdad.