Teknologi kereta otonom saat ini sudah digunakan di banyak negara, dan belum lama ini, perusahaan multinasional milik Perancis, yakni Thales mengadakan konferensi pers yang memaerkan solusi “rel digital”-nya. Amaury Jourdan, Vice President dan CTO Thales membahas pentingnya keamanan siber dan solusi digitalnya saat ini dan di masa depan untuk industri perkeretaapian.
Baca juga: Dengan Lokomotif Otonom, Swiss Federal Railway Siap Naikkan ‘Kasta’ Armadanya
KabarPenumpang.com menghimpun dari railway-technology.com, Jourdan mengatakan Thales saat ini tengah mengerjakan apa yang disebut dengan teknologi kecerdasan buatan.
“Tetapi hari ini kami tidak dapat melakukannya karena kami memiliki standar dan peraturan yang sangat, sangat ketat. Untuk mencapai teknologi otonomi kereta api, sensor perlu disertakan untuk memberikan kereta api kesadaran situasional, yang dapat dikomunikasikan melalui satelit,” jelas Jourdan.
Selain itu, dengan memastikan langkah-langkah keselamatan agar ditegakkan, kereta juga perlu diberikan informasi mengenai rutenya, informasi keselamatan penumpang dan lainnya.
“Kami sudah melakukan uji coba pertama misalnya dengan SNCF di Prancis [dan] dengan operator di Jerman. Kami saat ini sedang melakukan uji coba dengan sensor dan bagaimana kami sebenarnya dapat mengotomatiskan lebih banyak dengan keyakinan operasi kereta jalur utama,” ujarnya.
Thales percaya bahwa pada tahun 2025, otonomi kereta api utama akan menjadi fungsi yang sepenuhnya tersedia. Masa pandemi ini mengubah cara semua orang menjalani kehidupan sehari-hari secara dramatis seperti jarak sosial, pemakaian masker dan sanitasi yang sering.
Pentingnya menjaga jarak sosial dalam lingkungan stasiun adalah kunci untuk memastikan tidak hanya keselamatan penumpang sendiri tetapi juga sesama penumpang. Teknologi yang dikembangkan oleh Thales dikenal sebagai DIVA. Ini adalah algoritme deteksi kerumunan untuk membantu penumpang menghindari area ramai di dalam stasiun serta memberikan wawasan, prediksi dan peringatan kepada operator transportasi.
Teknologi tersebut bekerja dengan memanfaatkan kamera CCTV yang ada di dalam dan sekitar stasiun kereta api dengan menggunakan algoritma computer vision. Data ini kemudian digunakan untuk menghasilkan data waktu nyata dan peta panas untuk memberikan wawasan tentang kepadatan penumpang bagi penumpang dan karyawan.
Salah satu cara teknologi dapat digunakan adalah dengan memberikan panduan penumpang di platform dengan menggunakan data CCTV, DIVA dapat menunjukkan kepada penumpang yang sedang menunggu di peron mana gerbong kereta yang mendekat lebih atau kurang ramai. Informasi ini diberi kode warna seperti hijau untuk rendah, kuning untuk sedang dan merah untuk tinggi.
DIVA menyediakan peta kepadatan jaringan langsung yang menunjukkan kepada karyawan tingkat kepadatan penumpang di setiap area stasiun. Sistem kode warna merah, kuning, dan hijau digunakan lagi untuk menunjukkan ambang batas kepadatan yang dapat dikonfigurasi sebelumnya sebelum pemasangan teknologi. Pemantauan kepadatan penumpang ini juga akan memungkinkan operator untuk menentukan berapa banyak kereta yang perlu dijalankan.
Baca juga: Teknologi Geolokasi Real Time Mudahkan Perbaikan Masalah di Kereta Api
Thales juga mempresentasikan metode mobilitas berkelanjutannya, GreenSpeed. Teknologi nasihat pengemudi ini, yang dikendalikan oleh algoritme, memberi tahu pengemudi cara terbaik mengemudikan kereta sesuai dengan berbagai isyarat lingkungan. Teknologi tersebut memantau kecepatan, kondisi cuaca dan lintasan kemacetan, dan menurut Thales, akan mengurangi emisi hingga 15 persen yang setara dengan konsumsi kota yang berpenduduk 2.000 jiwa per tahun.