Gedung Capitol Amerika Serikat (AS) belakangan menjadi sorotan lantaran diserang massa pendukung Presiden Donald Trump pada Rabu (1/6) waktu setempat. Penyerangan itu dilakukan untuk menolak pengesahan hasil Pilpres 2020. Menurut sumber seorang anggota Kongres AS, petugas kepolisian pengamanan objek vital langsung bersiaga dengan mencabut senjata api ketika massa Trump hendak menerobos ke ruang sidang.
Sumber itu mengatakan para pendukung Trump terus menggedor-gedor pintu masuk ruang sidang yang dikunci. Petugas keamanan Kongres dilaporkan menembakkan gas air mata untuk memaksa para pendukung Trump keluar dari Gedung Kongres.Tak berselang lama, bentrokan pun terjadi dan situasi berubah jadi mencekam.
Menariknya, sebelum penyerangan pendukung Presiden Donald Trump terjadi, Gedung Capitol AS, yang menjadi tempat anggota kongres, senat, dan parlemen AS bekerja, sudah lebih dahulu mendapat ancaman. Ancamannya bahkan jauh lebih parah dari yang terjadi Rabu lalu. Hanya saja, ancaman tersebut dikonfirmasi bukan datang dari massa pendukung Trump.
Salah satu stasiun televisi di AS, CBS News, mengklaim bahwa para pengawas lalu lintas udara (ATC) kota New York, pada hari Senin lalu menerima pesan suara dari gelombang radio berisi ancaman pembalasan atas kematian Jenderal Iran, Qasem Soleimani.
Disebutkan, sejumlah petugas ATC kota New York mendengar pesan suara bot berisi ancaman dari sebuah frekuensi radio yang digunakan seorang pilot. Pesan suara itu mengatakan, “Kami akan menerbangkan pesawat ke Capitol Building pada hari Rabu (6/1). Teror Soleimani akan dibalas.”
Menurut CBS News, tidak jelas siapa yang mengirim ancaman ini, sementara pejabat pemerintah Amerika menganggapnya sebagai ancaman fiktif dan sedang menyelidiki bagaimana pesan tersebut bisa menembus frekuensi radio petugas ATC.
Sumber yang dikutip CBS News mengatakan, Pentagon dan lembaga lain seperti FBI, FAA, dan TSA bekerja sama dengan National Counterterrorism Center (NCTC) sudah diberitahu soal ancaman ini. Menurutnya, ancaman ini adalah suara rekaman yang memberi informasi bahwa Gedung Capitol akan menjadi target serangan di hari ketika Kongres menggelar pertemuan untuk memutuskan hasil pemilu presiden Amerika.
Menurut sebuah laporan, selain didengar oleh ATC, pesan suara robot itu juga diterima di kokpit pesawat penumpang saat dalam perjalanan dari San Juan ke New York JFK. Selain itu, laporan lain menyebut bahwa pesawat JetBlue dengan nomor penerbangan 2304 juga mendapat pesan tersebut.
Baca juga: Efek Bird Strike: Pesawat Setara Tabrak Objek Seberat 32 Ton! Kok Bisa?
Meski otoritas berwenang sudah memastikan bahwa ancaman itu datang dari sebuah wilayah di AS, bukan dari Iran, sebagaimana pengakuan dalam ancaman terhadap Gedung Capitol, tetap saja, hal itu sungguh meresahkan. Para pengamat mengaku khawatir dengan bocornya sinyal kontrol penerbangan karena ini bisa mempengaruhi kerja para pilot dalam menentukan mekanisme dan lokasi terbang.
Ancaman berupa menabrakkan pesawat ke gedung tentu bukan hal baru di AS. Negeri Paman Sam sebelumnya pernah mengalami peristiwa kelam pada 11 September 2001 silam atau lebih dikenal 9/11. Dalam peristiwa tersebut, sebanyak 2.977 tewas.