Mhmad Motawa mungkin tak pernah berpikir bahwa ia harus mendapatkan perlakuan tak semestinya dari Indonesia. Usai dideportasi dari Arab Saudi dan Malaysia, ia menjalani hidup sangat sulit di tempat penampungan di Bandara Soekarno-Hatta selama setahun.
Baca juga: Lagi, Imigran Cilik Asal Guatemala Meninggal di Perbatasan El Paso
Bahkan, berat badannya harus turun 30 kg, saking sulitnya makan. Namun, garis tangan menuntunnya untuk terus bertahan hidup hingga akhirnya ia hidup bahagia di negara makmur sejahtera nan jauh dari Indonesia, Selandia Baru.
Sambil menahan haru, ia pun mengulang kisahnya dihadapan jurnalis stuff.co.nz. Awalnya, Motawa hidup sulit di Suriah yang terus dilanda perang saudara. Pada tahun 2009, ia migrasi ke Arab Saudi dan sukses. Dua tahun berselang, ia pun menikah di Suriah dan kembali ke Arab Saudi. Dua tahun berikutnya, istrinya menyusul dan hidup bahagia di sana bersama istri dan dikaruniai dua anak.
Setelah 10 tahun, kebahagiaannya mulai terusik lantaran aturan perundang-undangan baru tentang imigran. Alhasil, ia kehilangan pekerjaan dan visanya dicabut. Istrinya kembali ke Suriah sedangkan Motawa berusaha mencari tempat baru untuk berlabuh. Ia pun terbang ke Indonesia untuk lanjut ke Malaysia.
Sayangnya, Negeri Jiran itu menolak dan ia dideportasi ke Jakarta pada Desember 2019. Sejak saat itulah, kehidupan suram mulai menderanya. Ketika itu, ia ditempatkan di ruang penampungan di terminal dua Bandara Soekarno-Hatta. Tempatnya sempit dengan tempat tidur tingkat, tanpa internet, dan tanpa jendela. Makan pun juga seadanya.

Akan tetapi, itu belum seberapa ketika Covid-19 menerjang Indonesia. Terminal dua ditutup dan ia dipindahkan ke ruang serupa di terminal tiga. Tempat penampungannya bahkan jauh lebih parah dan tanpa toilet. Makan juga seadanya. Bahkan, ia pernah nyaris dua hari tidak mendapat makanan. Ketika itu, ia hanya bisa berteriak minta makan dalam bahasa Indonesia.
Merasa iba, petugas pun datang dan hanya diberikan setengah potong jagung. Makanan enak justru kerap ia dapatkan dari wisawatan lain yang sempat mendekam di sana. Bedanya, mereka hanya mendekam beberapa saat karena negara mereka langsung turun tangan dan menerbangkannya kembali ke negaranya. Jauh berbeda dengan Motawa.
Di antara mereka, salah satunya sempat memberikan paket internet kepadanya. Kendati kecil, namun diakuinya cukup berharga. Sebab, dengan kuota internet, ia bisa menonton tutorial belajar bahasa Inggris di YouTube sampai ia bisa dibilang mahir karenanya. Meski demikian, hal itu tidak lantas mengubahnya dari keadaan sulit, dimana ia masih kesulitan mandi karena tak ada toilet dan tentu saja sulit makan.
Sebetulnya, sempat ada opsi untuk kembali diterbangkan ke Suriah, namun, karena pandemi virus Corona dan perang, tidak ada penerbangan ke sana. Niat itu pun urung dilakukan.
Setahun terlantar di bandara, secercah harapan kemudian muncul setelah perwakilan PBB datang membantunya dan diserahkan ke Selandia Baru setelah melewati wawancara dan pemeriksaan kesehatan oleh pihak kepolisian.
Baca juga: Kisruh Deportasi Yahudi dari Tanah Palestina, Kapal SS Patria di Bom dan Tenggelam di Pelabuhan Haifa
Pada 29 Desember 2020, ia akhirnya tiba di Auckland, ibu kota Selandia Baru, setelah menjalani isolasi mandiri selama 20 hari dan menjalani kehidupan baru di Christchurch. Tak hanya itu, ia juga disekolahkan untuk memperlancar bahasa Inggrisnya di politeknik Ara dan dipekerjakan sebagai tukang ledeng.
Meski hanya menjadi tukang ledeng, namun, hidupnya jauh lebih sejahtera dibanding di Suriah, Arab Saudi, apalagi Indonesia. Istrinya pun kaget bukan kepalang saat diberitahu Selandia Baru sebagai tempat bertualang selanjutnya. Bila tak ada aral melintang, istri dan anak-anaknya akan turut didatangkan untuk memulai lembaran hidup baru bersama keluarga kecilnya.