Sunday, April 6, 2025
HomeAnalisa AngkutanDirut Garuda Tentang Imbas Corona: "Bukan Demand yang Menurun Tetapi Sentimen yang...

Dirut Garuda Tentang Imbas Corona: “Bukan Demand yang Menurun Tetapi Sentimen yang Meningkat”

Industri penerbangan saat ini mulai terpengaruh akibat virus corona. Dimana-mana, maskapai penerbangan ramai-ramai mengurangi rute ataupun mengurangi frekuensi penerbangan. Bahkan, salah satu maskapai penerbangan di Inggris, Flybe, resmi dinyatakan bangkrut akibat tak mendapat suntkan modal dan demand (penumpang) yang menurun.

Baca juga: Soal “Recovery Plan” Hadapi Virus Corona, Dirut Garuda: “Kita Ingin Jadi Perusahaan yang Paling Siap di Region Ini”

Terkait penuranan jumlah penumpang di tengah wabah virus corona, Irfan Setiaputra pun angkat bicara. Menurut Direktur Garuda Indonesia tersebut, saat ini, posisi dunia penerbangan di dunia bukan mengalami penurunan demand, melainkan sentimen yang meningkat.

Menurutnya dua hal itu (antara sentimen yang meningkat dengan demand yang menurun) berbeda mengingat setiap orang pasti memiliki keinginan untuk bepergian. Artinya, demand tetap ada, hanya saja, karena dibatasi dengan maraknya wabah virus corona, perilaku penumpang kemudian berubah akibat sentimen penumpang untuk bepergian yang juga cenderung berubah.

“Mungkin bukan demand yang menurun tetapi sentimen yang meningkat. Keinginan bepergian itu ada dalam hati setiap orang. Tapi hari ini mungkin banyak orang mulai bertanya, perlukah saya pergi?” katanya, kepada KabarPenumpang.com saat ditemui di kantor Garuda Indonesia Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat, (6/3).

Selanjutnya, direktur yang baru menjabat pada 22 Januari 2020 lalu itu juga menyoroti faktor lainnya yang membuat sentimen meningkat. Menurutnya, selain dipicu oleh keinginan pribadi, keinginan (untuk bepergian) juga pada umumnya dipicu oleh perusahaan, semisal perjalanan dinas. Ketika perusahaan menahan hal tersebut akibat sentimen yang meningkat, tentu saja perjalanan udara akan jadi berkurang.

“Yang kedua (terkait sentimen untuk bepergian yang meningkat) banyak perusahaan mengajukan untuk tahan dulu bepergian. Bukan melarang. Tahan dulu bepergian. Boleh pergi, kalau Anda merasa itu perlu. Jadi yang terjadi bukan demand yang menurun tapi terjadi sentimen yang meningkat terhadap bepergian,” tegasnya.

Di samping meningkatnya sentimen untuk bepergian yang berimbas pada penurunan jumlah penumpang, Irfan juga mengkhawatirkan industri penerbangan saat ini. Menurutnya, industri penerbangan salah satu syaratnya adalah keterbukaan. Artinya, ada interaksi antara satu negara dengan negara lainnya. Satu benua dengan benua lainnya.

Oleh karenanya, ketika keterbukaan tersebut dibatasi, seperti misalnya satu negara memblokir suatu tempat untuk berinteraksi, hal tersebut akan cukup terdampak bagi maskapai. Pasalnya, pesawat yang biasa didedikasikan untuk penerbangan ke suatu tempat (yang diblokir atau locked down) tersebut menjadi tidak terbang atau grounded. Imbasnya, pendapatan pun menurun. Sebaliknya, cost justru meningkat.

Baca juga: Dirut Garuda Indonesia: “Tidak Ada PHK Massal di Tengah ‘Badai’ Virus Corona”

“Memang situasi yang terjadi belakangan ini agak mengkhawatirkan untuk industri ini. Karena apa, salah satu syarat industri ini adalah keterbukaan. Dunia ini mestinya terbuka, tapi ketika memblokir satu tempat atau terblokirnya satu tempat atau mungkin satu negara melarang untuk berinteraksi dengan negara tersebut, mulailah persoalan-persoalan muncul,” ujar Irfan.

“Seperti contohnya pada waktu pemerintah Indonesia memutuskan menutup ke Cina. Ya artinya apa, secara teknis logistik dikitanya penerbangan ke Cina itu harus kita hentikan. Dengan penghentian tersebut, pesawat yang semestinya kita dedikasikan untuk penerbangan ke Cina, jadi ga pergi kemana-mana, parkir (grounded). Nah, begitu parkir ini menjadi cost, tidak ada lawannya, ada biaya tapi tidak ada lawannya. Ini yang menjadi persoalan,” tutupnya.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru