Kendati RUU Esktradisi yang selama ini menjadi ‘biang kerok’ dari demonstrasi besar-besaran yang terjadi di Hong Kong dalam kurun waktu beberapa bulan ke belakang ini sudah dicabut, namun kabar terakhir menyebutkan bahwa demo masih saja terjadi di bagian terluar dari Negeri Tirai Bambu ini. Terlepas dari demo yang masih berlangsung hingga minggu kedua bulan September ini, nama Cathay Pacific sebagai flag carrier Hong Kong masih menjadi sorotan berbagai media – terlebih karena sahamnya yang terus merosot.
Baca Juga: Bantu Cathay Pacific Lewati “Turbulensi,” Qatar Siap Tingkatkan Kepemilikan Saham
Pada pemberitaan sebelumnya, disebutkan bahwa salah satu stakeholders dari saham Cathay Pacific, Qatar Airways siap untuk menambah saham mereka di tubuh flag carrier tersebut – dengan dalih untuk membantu Cathay Pacific keluar dari ‘turbulensi’. Dari pernyataan Qatar yang akan menambah porsi sahamnya, Air China menunjukkan gelagat yang agaknya tidak terlalu senang dengan ide tersebut. Tidak hanya Air China, Swire Pacific yang juga memiliki saham di Cathay ini juga menunjukkan sikap serupa.
Terindikasi ‘sirik’ dengan Qatar, pihak Air China pun melontarkan pernyataan bahwa mereka tidak memiliki rencana untuk mengambil alih kepemilikan dari Cathay Pacific. Pernyataan tersebut dilontarkan oleh direktur non-eksekutif Air China, Stanley Hui.
“Sejauh apa yang saya tahu, itu (mengambil alih Cathay) tidak ada di dalam agenda, tidak mungkin,” tutur Stanley.
Diwartakan KabarPenumpang.com dari Reuters (9/9), Air China merupakan pemegang saham terbesar kedua setelah Swire Pacific Ltd. yang bercokol di angka 45 persen. Air China sendiri memiliki saham sebesar 30 persen di tubuh Cathay Pacific, diikuti oleh Qatar Airways di angka 10 persen.
Padahal, menurut para analis, bukan tidak mungkin rupanya jika Air China mengambil alih sisa saham Cathay Pacific di masa yang akan datang – mengingat saham dari flag carrier Hong Kong ini sendiri tengah jatuh-jatuhnya pasca demonstrasi besar-besaran RUU Ekstradisi.
Menanggapi pernyataan analis ini, pihak Air China menolak untuk berkomentar.
Baca Juga: Diterjang Badai “RUU Ekstradisi,” Sampai Kapan Cathay Pacific dapat Bertahan?
Sebelumnya, saham Cathay Airways turun lebih dari empat persen per tanggal 12 Agustus 2019. Angka tersebut mendekati saham terendah perusahaan dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Saham Cathay Pacific anjlok ke level 9,82 dollar Hong Kong pada sesi awal perdagangan. Ini merupakan level terendah sejak Oktober 2018 dan hampir mencapai level terburuk sejak krisis keuangan global pada 2009.