In-flight entertainment (IFE) dinilai memegang peranan penting, dalam hal ini terhadap hiburan penumpang, di setiap penerbangan. Di masa pandemi, IFE bahkan bukan hanya menyuguhkan hiburan audio visual, melainkan juga jadi sarana informasi kru pesawat saat on board.
Baca juga: Tak Semudah Menontonnya, Begini Rahasia Dibalik Proses Pemilihan Film di Pesawat, Rumit!
Sekilas, IFE tampak tak dilengkapi kabel. Padahal, di balik semua itu, terdapat kabel dalam sebuah jaringan besar di seluruh badan pesawat dan terhubung dengan unit daya untuk membuatnya berfungsi.
Menurut Cranky Flier, IFE modern tidak menggunakan terlalu banyak kabel. Perannya digantikan dengan kabel serat optik untuk membawa sebagian besar data dan daya. Dengan begitu, sistem IFE jauh lebih ringan dan efisien dari sebelumnya, dimana kaki penumpang seringkali terbentur box IFE dan membatasi ruang kaki. Tentu menjadikannya tak nyaman.
Sekalipun box IFE di bagian bawah kursi sudah tidak ada lagi, bukan berarti tugas maskapai selesai. Masing-masing maskapai bakal dipusingkan dengan proses penyediaan konten, berupa film, games, musik, dan berbagai liburan lainnya. Tak jarang, pada proses ini, maskapai sampai merogoh kocek cukup dalam demi menghadirkan konten berkualitas.
Terkait konten film di penerbangan, di masa lalu, maskapai MGM Grand Air bahkan pernah menghadirkan enam film tayang perdana di setiap penerbangan. Alhasil, tak sedikit penumpang yang jatuh hati pada maskapai langganan para selebriti papan atas dunia itu.
Saat ini, maskapai penerbangan global, termasuk maskapai papan atas sekalipun, seperti British Airways, Emirates, Qatar, Qantas, dan Singapore Airlines, memang tak bisa mengikuti jejak MGM Grand Air. Namun, maskapai-maskapai tersebut menempuh proses panjang dan mahal, dengan melibatkan banyak pihak, untuk mendapatkan hasil akhir berupa film-film berkualitas.
Menurut laporan dari Valor Consultancy, sebagaimana dikutip Simple Flying, film in flight atau IFE terbagi menjadi tiga, early window content (EWC), late window content (LWC), dan film internasional. EWC adalah film termahal karena baru saja keluar dari bioskop. LWC justru sebaliknya, meliputi film-film klasik dan jauh lebih murah. Adapun film internasional derajatnya lebih rendah dari LWC, dengan lebih sedikit pilihan.
Maskapai penerbangan biasanya membeli film-film langsung ke Hollywood studio, dimana harga didasari pada rute yang diterbangi dan rating box office film itu sendiri. Semakin tinggi dan semakin baru tentu semakin mahal. Disebutkan, untuk film yang baru rilis, maskapai penerbangan sampai menghabiskan sekitar US$32.718 atau sekitar Rp462 juta (kurs 14.200) per film.
Seiring berjalannya waktu, biaya penyediaan fasilitas IFE yang menempel di bagian belakang kursi pesawat dinilai terlalu mahal. Belum lagi biaya perawatan dan operasional.
Baca juga: Mengapa Pesawat Punya Dua Soket Audio? Inilah Alasannya
Oleh karena itu, perlahan tapi pasti maskapai mulai bergerak menyediakan layanan streaming film langsung ke ponsel penumpang. Dengan sebagian besar penumpang yang sudah mempunyai akses streaming, seperti smartphone, laptop, ataupun tablet, akan jauh lebih murah untuk meninggalkan unit IFE dan menggantinya dengan fasilitas WiFi di pesawat.
Bila itu terjadi, bukan tak mungkin di masa mendatang unit IFE di tiap-tiap pesawat akan ditinggalkan sepenuhnya dan diganti dengan penyedia layanan streaming, seperti Netflix, Amazon Prime Video, dan perusahaan lainnya.