Pesawat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 dipastikan jatuh di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Kabar jatuhnya pesawat Sriwijaya Air ini pun jadi sorotan bukan hanya media nasional, melainkan media-media internasional; salah satunya ABC.
Baca juga: Sriwijaya Air SJ-182 Telah Berusia 26 Tahun, Masih Layakkah Mengudara?
Selain terus mengupdate lokasi kotak hitam atau black box yang sudah ditemukan, penemuan puing-puing pesawat PK-CLC, potongan tubuh dan barang-barang milik korban, seperti celana panjang dan KTP, serta kabar terkait keluarga korban, media asal Australia ini juga menyinggung reputasi maskapai yang tak terlalu bagus jika dilihat dari situs airline ratings.
Airlines rating sendiri, dilihat KabarPenumpang.com dari laman resminya, merupakan situs penyedia dan pengulas peringkat produk dan keselamatan maskapai terbaik di dunia. Media online ini juga menjadi wadah penilaian keselamatan dari para ahli pertama di dunia. Jadi, dilihat dari sudut manapun, nampaknya penilaian Airline Ratings bisa dipertanggungjawabkan, sekalipun perlu penelusuran lebih jauh terkait hal ini.
Secara keseluruhan, dari tiga kategori penilaian, yaitu terkait safety, product, dan Covid-19, Sriwijaya Air hanya mendapat bintang satu, masuk dalam jajaran terburuk dibanding maskapai regional carrier lainnya dari seluruh dunia.
Dalam daftar maskapai regional carrier sesama berawalan huruf “S” Sriwijaya Air bahkan jadi yang terburuk, di bawah SprintAir (bintang 5), Solomon Airlines (bintang 5), SkyTrans (bintang 7), SkyBahamas (bintang 6), Sky Express (bintang 6), Silver Airways (bintang 6), SilkAir (bintang 6), SATA Air Acores (bintang 7), dan SA Express (bintang 6).
Sriwijaya Air bahkan tak lebih baik dari maskapai StarPeru (bintang 5) dan SATENA (bintang 4) yang berasal dari Peru dan Kolombia, dimana kelas penerbangan kedua negara bisa dibilang masih berada di bawah Indonesia.
Ketika disandingkan dengan maskapai-maskapai di Indonesia pun, total perolehan rating Sriwijaya Air juga masih di bawah Lion Air (bintang 2), Citilink dan Garuda Indonesia (bintang 5), serta Batik Air (bintang 6).
Bila dilihat dari setiap rating di masing-masing kategori penilaian, maskapai yang pernah dikabarkan bangkrut pada tahun 2019 lalu ini bahkan tak mendapat bintang sama sekali dari tujuh terkait penanganan Covid-19 dalam operasional pnerbangan. Di dua kategori lainnya, maskapai regional carrier atau maskapai medium ini mendapat empat dari tujuh bintang dan tiga dari lima bintang.
Khusus di kategori safety, dimana penilaian didasarkan pada analisis komprehensif tentang kecelakaan dan data insiden serius terkait pilot yang dikombinasikan dengan audit dari badan pengatur penerbangan dunia (ICAO) dan asosiasi terkemuka (IATA) bersama dengan data kepatuhan Covid-19 terbaru, jika di breakdown, Sriwijaya Air hanya mendapat satu clearance atau centang hijau dari tujuh.
Baca juga: Apa Itu Kotak Hitam Atau Black Box?
Sriwijaya Air mendapat centang hijau di salah kolom incident rating dan mendapat tanda merah di semua kolom di kategori fatality free, audits, dan Covid-19 compliant.
Memang terlalu memaksakan bila insiden kecelakaan pesawat Boeing 737-500PK-CLC Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 diakibatkan bintang satu yang diterima maskapai di Airline Ratings. Namun, tak ada salahnya, bila penilaian ini menjadi bahan evaluasi maskapai (termasuk maskapai lainnya di seluruh dunia) untuk menyediakan penerbangan aman dan nyaman di kemudian hari.