Dianggap Sempit dan Tak Nyaman, Kursi KA Ekonomi Premium Penumpang Akan Diganti

KA Ekonomi Premium

Kereta ekonomi premium namanya, jenis kereta anyar ini jelas mencerminkan nuansa segar dan modern, baik pada eksterior dan interior gerbongnya. Siapa pun yang pertama masuk punya ekspektasi tinggi pada peranakan kelas bisnis dan ekonomi ini. Namun dibalik ‘keindahan’ interior gerbong ekonomi premium, sejumlah keluhan mengemuka dari para penumpangnya.

Baca juga: “Kelas Ekonomi Rasa Eksekutif,” PT KAI Siap Luncurkan 66 Gerbong Ekonomi Premium

Jarak antar kursi yang sangat sempit dibandingkan kereta bisnis menjadi alasan utama, bagi penumpang yang punya tinggi di atas 175 cm ditaksir akan kesulitan untuk meregangkan kaki. Tuntutan pun mengemuka, sebagian pecinta kereta Indonesia menginginkan kembalinya PT KAI mengoperasikan gerbong kelas bisnis.

Penghapusan kelas bisnis sendiri pernah terealisasi pada 2016 lalu dimana KA Senja Utama, Fajar Utama dan Mutiara Selatan menggunakan rangkaian K3-16 yang juga disebut ekonomi plus. Namun karena banyaknya keluhan yang timbul beberapa minggu kemudian kebijakan tersebut dihapuskan dan kembali dengan kereta rangkaian bisnis.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa kereta K3 tersebut kemudian digunakan pada KA Argo Parahyangan. Alasan pengguna kereta meminta kelas bisnis dikembalikan karena jarak antar tempat duduk yang terlalu sempit dan kursi yang digunakan lebih tegak dibandingkan dengan kelas bisnis.

Memang harga yang ditawarkan lebih murah dibandingkan dengan kelas bisnis. Adanya permasalahan ini juga sempat dibuat petisi untuk mengganti KA premiun dan kembali menjadi kereta bisnis.

Diketahui, KA premium ini menggantikan KA bisnis pada 28 September 2016 saat ulang tahun KAI ke 71. Langkah ini sebenarnya menandakan berakhirnya eksistensi kelas bisnis dan digantikan rangkaian baru kelas ekonomi buatan PT INKA.

Ada lima set sejak tahun 2014, dari luar kereta sangat bagus dan membuat decak kagum. Interior pun mentereng. Sayang persoalan timbul pada kursi dan jarak antar kursi yang sempit. Sebenarnya kursinya cukup empuk tetapi terasa kaku dan tak bisa diatur (reclining seat) dengan sandaran yang tegak membuat punggung lelah.

Untuk tempat kaki dan berselonjoran adalah hal langka dan banyak yang mengeluh apalagi orang tua dengan perjalanan cukup jauh dan waktu tempuh lebih dari delapan jam. Kondisi duduk sempit ini bisa memicu penyakit Deep Vein Trombosisi (DVT) yakni penggumpalan darah di dalam pembuluh darah, yang umumnya menyerang daerah persendian di sekitar kaki.

Baca juga: Terbang Nonstop Lebih dari 16 Jam, Ini Yang Mungkin Terjadi Pada Anda

Untuk ibu hamil dan ibu menyusui ini adalah hal yang merepotkan. Mungkin sebagian besar akan berpikir dan memilih duduk di lantai daripada harus duduk menyiksa. Bahkan seseorang yang memiliki tinggi di atas 175 cm akan merasakan nyeri dengan kondisi seperti itu.

Adanya masalah di atas rupanya direspon cepat oleh PT KAI. Gerbong kelas bisnis seperti yang saat ini dipakai Fajar/Senja Utama nantinya tetap akan diganti, karena sudah menua. Sebagai solusinya PT KAI akan melakukan modifikasi pada jarak tempat duduk kereta ekonomi premium secara bertahap.