Setiap otoritas perkeretaapian di seluruh dunia berhak untuk menentukan besaran tarif yang sekiranya hendak dibebankan kepada para penumpangnya – tidak seperti dunia aviasi yang bisa dibilang lebih fleksibel karena penentuannya ditentukan oleh banyak aspek, salah satunya adalah harga minyak dunia. Semisal di Ibukota harga tiket Commuter Line Jabodetabek paling mahal adalah Rp6.000 dan kenaikan nilai tersebut dilandaskan pada jauhnya jarak tempuh, lalu bagaimana dengan di luar negeri sana?
Baca Juga: Hitachi Siap Digitalkan Perkeretaapian di Inggris, Seperti ini Caranya!
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman independent.co.uk (30/8/2018), mereka menyebutkan bahwa dengan Anda singgah di gerai kopi Starbucks selama kurang lebih empat menit, Anda bisa menghemat £28 atau yang setara dengan Rp542.000. Tentu penyataan ini menimbulkan pertanyaan di benak Anda semua, bukan? Bagaimana bisa Anda yang datang ke Starbucks untuk membeli kopi malah bisa menghemat Rp542.000?
Diketahui harga tiket perjalanan dari London (Stasiun King’s Cross) menuju Newcastle dengan menggunakan layanan London North Eastern Railway (LNER) pada pukul 07.30 waktu setempat adalah £153 atau yang setara dengan Rp2,9 juta. Namun seperti yang sudah disebutkan di atas, Anda bisa menghemat £28 atau yang setara dengan Rp542.000 cukup dengan cara datang lebih awal menuju stasiun.
Tidak perlu terlalu pagi, cukup datang sebelum pukul 07.26 waktu setempat – empat menit lebih awal menuju Stasiun King’s Cross dan menggunakan layanan Hull Trains, maka harga yang ditawarkan untuk tujuan yang sama adalah £125 atau berkisar Rp2,4 juta. Sebuah selisih harga yang akan sangat dipertimbangkan oleh orang Indonesia mengingat jumlahnya yang tidak sedikit bagi kita.
Dengan berbekal sebuah kopi Starbucks, kiranya itu bisa menemani perjalanan Anda menuju Newcastle di pagi hari dengan tarif perjalanan yang lebih murah. Sebuah pertanyaan timbul, mengapa harga kedua layanan tersebut berbeda cukup signifikan, padahal rute yang dioperasikan sama?
Hal ini ditengarai karena adanya privatisasi yang terjadi di tubuh operator. “Namun privatisasi tersebut tidak sepenuhnya memegang kendali terhadap melonjaknya harga tiket,” ungkap Head of Fares di Rail Delivery Group (RGD), Andy Wakeford. “Tingginya harga ini lebih dikarenakan sistem yang buruk – namun banyak politisi yang malah memperdebatkan peningkatan presentase harga per bulan Januari, tanpa membenahi sektor yang lebih vital,” tandasnya.
Baca Juga: Stasiun Dent, Jadi Stasiun Tertinggi di Inggris dan Disewakan untuk Penginapan
Tentu saja, hal seperti ini dapat membawa dampak yang semakin buruk ke depannya semisal tidak dibenahi sedini mungkin. Diperlukan pembahasan secara mendetail dan menyeluruh untuk menemukan titik penyebab bobroknya sistem pertiketan di sana. Sederhananya seperti itu.