Menjadi negara terbanyak kedua terinfeksi virus corona, pelancong yang datang ke Singapura lewat Bandara Changi mengalami penurunan yang drastis. Bahkan Singapore Tourism Board (STB) memperkirakan kedatangan penumpang turun 18 ribu hingga 20 ribu per hari dan akan semakin menurun lagi di hari-hari kedepan. Dalam sebuah laporan yang diberikan Tiffani Fumiko Tay, mengatakan wabah virus corona memiliki dampak yang lebih besar di Singapura daripada wabah SARS di tahun 2003 lalu.
Baca juga: Cegah Virus Corona, Otoritas Angkutan Darat Singapura Bagikan 300 Ribu Masker ke Sopir Taksi
“Pada titik ini, kami memperkirakan bahwa setiap hari, kami kehilangan rata-rata 18 sampai 20 ribu pengunjung internasional ke Singapura. Sektor pariwisata Singapura menghadapi tantangan terbesar sejak SARS pada tahun 2003. Namun tidak seperti SARS, kami sekarang lebih siap dan lebih tangguh. Tujuan kami tetap menarik, kami memiliki saluran produk pariwisata yang kuat, dan portofolio pasar kami beragam,” ujar Keith Tan, Kepala Eksekutif STB yang dikutip KabarPenumpang.com dari simpleflying.com (12/2/2020).
Menurut STB, Cina menyumbang sekitar 20 persen dan menjadi pelancong terbesar dari kedatangan pelancong lain di Singapura. Tetapi Singapura menjadi negara Asia Tenggara pertama yang menutup perbatasannya dengan pendatang baru dari Cina Daratan.
Akibat virus corona yang belum terkendali ini, STB mengatakan kedatangan pengunjung turun 25 persen menjadi 30 persen di tahun 2020. Singapura diketahui pada 2019 kemarin menyambut kedatangan 19,1 juta pelancong.
Para pelancong tersebut menghabiskan US$19,55 miliar dengan produk domestik bruto (PDB) Singapura adalah sekitar US$365 miliar. Menurut data dari OAG, jumlah penerbangan antara Cina dan Singapura telah turun 89,1 persen pada bulan lalu.
Selain itu, maskapai penerbangan lokal Singapura juga membatalkan penerbangan ke Cina. Singapore Airlines dan Silk Air menangguhkan dan mengurangi beberapa layanan ke Cina termasuk rute Singapura – Beijing, Singapura – Shanghai, Singapura – Guangzhou, Singapura – Shenzhen, Singapura – Xiamen, Singapura – Chengdu dan Singapura – Chongqing.
“Masih banyak warga Singapura yang bekerja dan tinggal di Cina, banyak di antaranya masih akan membutuhkan konektivitas antara Singapura dan Cina. Sebagai operator nasional, kami akan terus mempertahankan konektivitas minimum ke kota-kota utama di Beijing, Shanghai, Guangzhou dan Chongqing untuk saat ini meskipun permintaan berkurang. Kami akan terus memantau situasi dengan cermat dan melakukan penyesuaian seperlunya,” ujar Singapore Airlines dalam sebuah pernyataan.
Tak hanya itu, maskapai berbiaya hemat (LCC) Scoot juga menangguhkan semua penerbangannya dari Singapura ke Cina Daratan hingga Maret 2020 mendatang. Scoot saat ini memiliki 19 tujuan ke Cina Daratan dan mereka juga memperingatkan pembatalan ad hoc pada layanan Singapura – Makau dan Singapura – Hong Kong.
Pada tahun keuangan 2018, ketiga maskapai tersebut menghasilkan pendapatan $11,77 miliar dengan laba bersih $770 juta. Namun, saat ini dengan anjloknya kedatangan penumpang di Singapura, prospek keuangan ketiga maskapai tersebut tidak akan secerah biasanya.