Kilas balik di tahun 1956, atau tepat satu tahun pasca Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika di Bandung, flag carrier Garuda Indonesia membuat satu terobosan yang kala itu dipandang sebagai sesuatu yang sangat mewah – penerbangan Haji perdana. Bagaimana tidak, saat itu masih banyak terjadi pemberontakan di dalam negeri, namun maskapai plat merah ini sudah berhasil memperkenalkan layanan penerbangan menuju Tanah Suci.
Baca juga: Di 1965, Garuda Indonesia dengan Convair CV-990 Lakoni Penerbangan Jakarta – Amsterdam
Ya, pada tahun 1956, Garuda Indonesia telah memperkenalkan layanan penerbangan ini yang kala itu masih dibanderol dengan harga di bawah Rp20.000 saja. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman Kompas.com, adapun biaya yang mesti dikeluarkan oleh para jemahaan Haji untuk melakukan perjalanan menuju Tanah Suci dengan menggunakan moda transportasi udara hanyalah sebesar Rp16.691 – atau dua kali lipat dari harga menggunakan moda transportasi laut yang hanya berkisar Rp7.500 saja.
Nah, Garuda Indonesia sendiri menggunakan armada Convair 340 untuk melayani para tamu Allah ini. Convair 340 sendiri mulanya dirakit atas permintaan United Airlines, dan pada akhirnya turut digunakan oleh flag carrier Belanda, KLM, dan juga Garuda Indonesia.
Convair 340 merupakan ‘perpanjangan’ dari Convair 240, dimana memungkinkan para maskapai penggunanya untuk menambahkan empat kursi tambahan di dalam setiap penerbangannya.
Bentang sayap yang jauh lebih lebar dari Convair 240, memungkinkan armada ini untuk mengudara lebih tinggi dan menyumbangkan kinerja yang lebih baik – kendati masih menggunakan tenaga baling-baling (dua buah mesin Pratt & Whitney Double Wasp R-2800-CB16)
Mengutip dari laman sumber lain, Convair 340 mampu merengkuh kecepatan hingga 270 mph atau yang setara dengan 434,5 km per jam. Tidak seperti kebanyakan armada penerbangan dewasa ini, kala itu Convair 340 hanya mampu menerbangkan maksimal 44 penumpang saja.
Baca Juga: Garuda Indonesia Klaim ‘On Time Performance’ Embarkasi Haji 2017 Adalah Yang Terbaik
Adapun ukuran dari pesawat ini adalah 24,07 meter untuk panjang dengan bentang sayap 32 meter dan tinggi 8,5 meter.
Karena perkembangan jaman dan inovasi yang terus bertumbuh di sektor kedirgantaraan internasional, akhirnya Convair 340 dinilai tidak lagi mampu bersaing dengan para kompetitornya yang notabene sudah mulai menggunakan mesin jet dan last retirement Convair 340 jatuh pada tahun 1970.