Antre atau ‘macet’ di lorong saat menuju kursi pesawat tentu sudah menjadi sebuah keniscayaan bagi penumpang dan maskapai. Beragam trik sudah dicoba, mulai dari melarang barang bawaan besar masuk ke kabin, mengatur masuk pesawat dari belakang ke depan, hingga masuk berdasarkan kelompok penumpang. Namun tak satupun membuahkan hasil yang signifikan.
Baca juga: Tim Fisikawan Internasional Temukan Cara Terbaik Minimalisir Kepadatan Dalam Kabin
Sadar hal itu tak baik untuk industri penerbangan ke depan, beberapa kalangan dalam sebuah projek Eropa yang dikenal sebagai PASSME pun coba mengurainya, dengan meluncurkan konsep kursi inovatif. Hadirnya kursi ini menjamin lorong akan lebih lega hingga dua kali lipat dan bisa dilalui oleh dua orang sekaligus tanpa harus memiringkan badan satu sama lain ketika berpapasan.
Dilansir Simple Flying, sebetulnya, secara teori, akan lebih mudah bila lorong pesawat lebih luas dari saat ini, yang pada umumnya, untuk pesawat narrowbody, hanya sebesar 16 inchi. Namun, menambah lebar pesawat secara keseluruhan tentu bukan sebuah jawaban yang solutif.
Akan tetapi, menambah lebar lorong tanpa harus menambah lebar pesawat dan lebar kabin secara keseluruhan, seharusnya bisa menjadi sebuah solusi. Idenya juga cukup sederhana, kursi dibuat lebih kecil dan sempit sehingga lebar lorong (aisle) pesawat menjadi lebih luas.
Hanya saja, konsekuensi dari pemangkasan jarak antar kursi menjadi masalah baru. Penumpang jadi dibuat tidak nyaman, dimana bahu satu sama lain mungkin akan bersentuhan, karenanya. Tentu saja hal itu sudah dipikirkan oleh tim PASSME. Melalui sebuah alat khusus, jarak antar kursi pesawat bisa diatur agar mengecil dan meregang sebagaimana biasanya cukup dengan menekan tombol.
#CCA18 Cabin Systems finalists 2018: @PASSME_EU's seat row can be pushed aside, creating space in the aisle. @RockwellCollins' partition wall allows #Eco enough legroom. @ZodiacAerospace' Durinal reduces occupancy of the other lavs. #AIX18 @aix_expo #PaxEx https://t.co/P7I5NTa4x1 pic.twitter.com/xJuh8C78ZZ
— Hamburg Aviation (@HamburgAviation) April 5, 2018
Alhasil, ketika kursi pesawat diperkecil (bukan dimensi kursinya melainkan jarak per tiga baris kursi dalam konfigurasi 3×3), membuat lorong menjadi berukuran 32 inchi atau dua kali lebih luas, untuk memudahkan penumpang menuju kursi masing-masing tanpa antre, dan kemudian duduk rapi di sana, petugas atau penumpang bisa langsung menekan tombol sebagai fitur dari kursi PASSME tersebut.
Usai ditekan, kursi pesawat akan kembali ke ukuran normal. Begitu juga dengan ukuran lorong. Setelah semuanya siap, barulah pramugari memberi tahu pilot dan pesawat bisa segera lepas landas.
Kendati simple, namun dampaknya luar biasa terhadap durasi penumpang masuk sampai duduk di kursi masing-masing. Bila sebelumnya, dengan kondisi lorong sempit, misalnya pada pesawat Boeing 737, prosesnya bisa mencapai 20 menit, dengan konsep kursi dalam projek PASSME, prosesnya menjadi hanya sekitar 5-7 menit atau 30 persen dari waktu yang ada saat ini. Cukup efektif, bukan?
Namun, alat khusus untuk membuat kursi lebih rapat satu sama lain, ternyata membuat bobot pesawat bertambah sebesar 5 persen. Walau bagaimanapun juga, tim percaya bahwa keuntungan mempercepat arus penumpang masuk dan keluar pesawat, sebelum dan sesudah penerbangan, akan menutupi kekurangan itu (tambahan bobot pesawat).
PASSME atau singkatan dari Personalised Airport Systems for Seamless Mobility and Experience sendiri merupakan projek kolaborasi antara 12 mitra, termasuk Optimares dan Almadesign, yang dimpimpin TU Delft, dengan tujuan untuk mengurangi waktu perjalanan udara door-to-door hingga 60 menit.
Baca juga: Dear Maskapai, Mau Kejar OTP Tinggi? Perhatikan Pengaturan Masuknya Penumpang Ke Kabin!
Untuk pembagian kerja, kursinya didesain oleh Almadesign, Optimares mengembangkan struktur kursi, DLR membantu proses simulasi, sedangkan TU Delft menguji dan mengembangkan produk.
Projek PASSME tidak hanya sekedar merancang kursi sebagai solusi, tetapi hampir seluruh masalah dalam penerbangan, seperti membuat aplikasi di smartphone, flow bagasi, dan demand penumpang di bandara.