Sunday, April 6, 2025
HomeAnalisa AngkutanBoeing 747 Ternyata Sempat Dibuat Konsep Trijet! Batal Gegara Hal Ini

Boeing 747 Ternyata Sempat Dibuat Konsep Trijet! Batal Gegara Hal Ini

Boeing 747 bisa dibilang jadi salah satu pesawat paling suskes di dunia. Pesawat yang sudah merayakan 50 tahun sejak penerbangan pertama pada Februari 2019 ini, menurut catatan Planespotters.net, sudah terjual sekitar 1.561.747 unit di seluruh dunia, tertinggi di kelasnya.

Baca juga: Parade Pesawat Trijet yang Pernah Beroperasi di Indonesia, Anda Pernah Coba?

Sejak terbang perdana pada 9 Februari 1969, Boeing 747 selalu mengusung empat mesin jet. Namun, sepanjang sejarah pengoperasiannya, Boeing 747 tercatat pernah terbang dengan lima mesin.

Pada awal Januari tahun 2016, Boeing 747 milik Qantas sempat menjadi perbincangan hangat karena membawa lima mesin sekaligus di sayap. Penumpang sempat dibuat khawatir karenanya.

Mereka takut tiga mesin di sayap kiri dan dua mesin di sayap kanan membuat pesawat menjadi tidak seimbang dan pada akhirnya dikhawatirkan bakal berdampak fatal.

Namun, kekhawatiran itu langsung dibantah Qantas. Flag carrier Australia tersebut memastikan, pesawat Qantas rute Sydney-Johanesburg bernomor penerbangan QF63 tetap aman sekalipun terdapat perbedaan jumlah mesin di kedua sayap pesawat.

Baca juga: Lebih dari 1.500 Unit Diproduksi, Inilah Seri Boeing 747 yang Terpopuler dan Sebaliknya

Mesin tersebut pada hakikatnya hanya sebagai sebuah ‘tempelan’ saja untuk digunakan oleh pesawat Qantas lainnya yang mengalami gangguan mesin di Johannesburg, Afrika Selatan. Jadi, mesin yang beroperasi tetap hanya empat.

Akan tetapi, di dekade 1960-an dan 1970-an, Boeing pernah mempertimbangkan konsep trijet di pesawat 747. Mockup Boeing 747 trijet juga sudah dibuat. Di tahun tersebut, pesawat trijet sedang menjadi primadona, dimana McDonnell Douglas DC-10 dan Boeing 727 jadi yang paling laris serta Lockheed L1011 TriStar digadang menjadi pesawat trijet tercanggih.

Sebagaimana pesawat trijet lainnya, Boeing 747 trijet juga menempatkan dua mesin di sayap dan satu lainnya di bagian ekor.

Tetapi, Boeing 747 tri-jet ini jauh lebih pendek dibanding Boieng 747 saat ini, yang salah satu variannya, Boeing 747-8, bahkan menjadi pesawat terpanjang di dunia, mengalahkan Airbus A340-600; sekalipun saat ini gelar pesawat terpanjang di dunia saat ini dipegang oleh Boeing 777X.

Baca juga: Maskapai Mana yang Paling Lama Operasikan Boeing 747?

Dilansir Simple Flying, proyek pengembangan Boeing 747 trijet pun akhirnya batal. Setidaknya ada dua faktor penyebab.

Pertama, mengingat sayap sudah ada didesian untuk masing-masing dua mesin, tentu, apabila ingin diubah menjadi satu mesin, Boeing harus melakukan riset dan pengembangan ulang dan itu butuh waktu, tenaga, dan biaya yang tak sedikit.

Kedua, terkait sertifikasi atau pelatihan pilot. Semakin identik dengan Boeing 747 yang sudah ada, maskapai pengguna tidak perlu memerlukan sertifikasi ulang. Tetapi, bila Boeing 747 trijet jadi dibuat, tentu maskapai pengguna Boeing 747 harus melatih ulang para pilotnya bilamana ingin mengoperasikan Boeing 747 trijet.

Baca juga: 9 Februari 1969, Memperingati 50 Tahun Penerbangan Perdana Boeing 747

Meski begitu, konsep Boeing 747 trijet tidak benar-benar ditinggalkan. Hanya, dikemas menjadi konsep Boeing 747SP atau Special Performance.

Boeing 747SP tetap mengusung empat mesin dan pertama kali memasuki tahun layanan pada 1976 bersama Pan Am. Catatan Planespotters, Boeing memproduksi total 45 unit 747SP, dimana enam di antaranya masih beroperasi sampai saat ini.

 

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru