Salah satu kemampuan dasar dari seorang pilot adalah membaca dengan benar parameter atau indikator pada instrumen di kokpit. Dengan memahami indikator setiap instrumen, maka seorang pilot dapat mengetahui dengan cepat jika terjadi sesuatu yang ‘aneh’ pada kinerja mesin pesawat. Dengan begitu, pilot dapat mengambil inisiatif awal untuk merespon pada indikasi masalah yang muncul. Tentu yang menjadi pertanyaan bagi netizen, bagaimana pilot dapat mengetahui adanya masalah pada mesin?
Baca juga: Temukan Masalah Pada Mesin, Singapore Airlines ‘Kandangkan’ Dua Boeing 787-10
Dikutip dari thepointsguy.com, dengan mesin pesawat yang begitu kompleks, maka ada banyak hal yang terjadi saat mesin sedang bergerak. Akibatnya, parameter terpenting tentang kinerja mesin diumpankan ke kokpit dan ditampilkan di layar untuk dipantau oleh pilot. Berikut adalah parameter yang menjadi panduan bagi pilot terkait kinerja mesin.
Rasio tekanan turbin (Turbine pressure ratio)
Mesin turbin pesawat menggunakan udara panas yang dibuat di ruang bakar untuk memutar kipas dan kompresor melalui poros mesin. Jadi, saat energi ini dikeluarkan dari udara untuk menggerakkan turbin, suhu dan tekanan udara juga turun. Rasio tekanan udara yang keluar dari turbin versus tekanan udara yang masuk ke turbin sesaat setelah ruang bakar disebut rasio tekanan turbin.
TPR — disebut “teeper” oleh pilot — adalah seberapa besar daya dorong yang dihasilkan mesin. Jika bahan bakar yang mengalir ke ruang bakar hanya sedikit, tekanan udara yang masuk ke turbin tidak terlalu berbeda dengan tekanan udara yang keluar dari turbin sehingga gaya dorong yang dihasilkan rendah sehingga memberikan nilai TPR yang rendah, namun jika banyak bahan bakar yang disemprotkan ke dalam ruang bakar maka tekanan udara yang keluar jauh lebih tinggi daripada yang masuk sehingga menghasilkan daya dorong dan TPR yang tinggi.
Pilot menggunakan pengukur TPR di kokpit cukup sederhana untuk melihat seberapa besar daya dorong yang dihasilkan setiap mesin.
N1
Tidak seperti pengukur TPR, yang menunjukkan perbedaan tekanan antara dua bagian mesin yang berbeda, nilai N1 adalah pengukuran kecepatan bagian mesin, ditampilkan sebagai persentase maksimum.
Tahap N1 mesin termasuk kipas depan dan kompresor tekanan rendah dan turbin tekanan rendah, yang semuanya dihubungkan oleh poros penggerak. Tidak semua pesawat memiliki pengukur TPR, sehingga awak menggunakan N1 sebagai indikasi utama dari putaran mesin dan daya dorong yang dihasilkan. Jika sistem penginderaan dan indikasi TPR gagal, pembacaan N1 memberikan indikasi kecepatan mesin yang akurat.

Suhu gas buang (Exhaust gas temperature)
Temperatur gas buang memberikan indikasi seberapa panas udara yang keluar dari bagian belakang mesin tepat setelah turbin. Cukup sering kita akan melihat bahwa EGT pada satu mesin agak lebih panas dari yang lain. Ini biasanya karena fakta bahwa satu mesin sedikit lebih tua dari yang lain. EGT yang lebih tinggi dari normal juga dapat menunjukkan lonjakan atau mati mesin, kegagalan, atau kebakaran knalpot.
Aliran bahan bakar (Fuel flow)
Indikasi aliran bahan bakar menunjukkan kepada kita berapa banyak bahan bakar yang digunakan mesin per jam dalam ribuan kilogram. Saya tahu dari pengalaman bahwa pesawat menggunakan sekitar 5 ton per jam, jadi pengukur aliran bahan bakar harus menunjukkan sekitar 2,5 di setiap sisi. Jika satu laju aliran sedikit lebih tinggi, biasanya merupakan indikasi bahwa mesin sedikit lebih tua dari yang lain. Nilai EGT yang lebih tinggi akan mendukung teori ini.
Tekanan oli (Oil pressure)
Seperti pada mesin apa pun, oli penting untuk menjaga agar bagian-bagiannya tetap terlumasi dan bergerak. Ini juga berfungsi sebagai pendingin dan pembersih. Selama operasi normal, tekanan oli harus tetap dalam batas-batas tertentu untuk memastikan bahwa itu terus mengalir di sekitar mesin. Jika tekanan mulai turun, mesin bisa gagal jika pilot tidak melakukan sesuatu dengan cepat.
Suhu oli (Oil temperature)
Suhu oli adalah kunci untuk memastikannya berada pada viskositas atau fluiditas utama. Pada hari-hari yang dingin ketika suhu luar bisa jauh di bawah titik beku, seringkali perlu beberapa saat agar suhu oli mencapai tingkat pengoperasian yang benar setelah menghidupkan mesin.
Kuantitas oli (Oil quantity)
Jumlah oli juga penting. Seiring waktu, oli akan habis dan tingkat kuantitas akan turun. Sebelum setiap penerbangan, teknisi memeriksa level oli dan menambahkannya sesuai kebutuhan sebelum pesawat berangkat. Namun, jika telah terjadi kegagalan struktural di mesin — seperti pipa oli menjadi longgar — jumlah oli dapat berkurang saat terbang.
Baca juga: Dikira Kerusakan Mesin, Api di Pesawat Boeing 737 SpiceJet Ternyata Gegara Bird Strike
Getaran (Vibration)
Mesin jet modern terdiri dari ribuan bagian, semuanya dirakit secara ahli dengan akurasi tertinggi. Baling-baling yang membentuk kipas, kompresor, dan turbin perlu menyeimbangkan satu sama lain saat mereka berputar ribuan kali per detik. Akibatnya, mereka harus ditimbang dengan akurasi 0,003%. Jika salah satu bilah menjadi rusak, dapat menyebabkan ketidakseimbangan yang menyebabkan getaran.