Saturday, April 5, 2025
HomeDaratBelajar Selama Empat Tahun, Pengemudi Taksi Jepang Fasih Berbahasa Inggris

Belajar Selama Empat Tahun, Pengemudi Taksi Jepang Fasih Berbahasa Inggris

Olimpiade Tokyo yang harusnya terlaksana tahun 2020 ini akhirnya harus tertunda karena pandemi virus corona yang menyebar di seluruh dunia. Hal ini membuat seorang pengemudi taksi di Jepang yang sudah belajar bahasa Inggris selama empat tahun menyesal karena memiliki sedikit kesempatan berbicara bahasa Inggris di tempatnya kerja.

Baca juga: Operator Taksi Jepang Buka Lowongan Jadi Pengemudi Asing, Tertarik?

Tetsunari Nayakama, pengemudi taksi di Tokyo ini belajar sendiri agar fasih berbahasa Inggris selama empat tahun. Dia belajar untuk memudahkan berkomunikasi dengan para pelancong yang akan menghadiri Olimpiade yang harusnya terlaksana pada 2020 ini.

“Saya menyesal karena hanya memiliki sedikit kesempatan untuk berbicara bahasa Inggris di tempat kerja sekarang. Saya berharap pandemi ini akan segera terkendali,” ujar Nayakama yang dikutip KabarPenumpang.com dari asahi.com (21/4/2020).

Nayakama mengatakan, dirinya belajar bahasa Inggris tepat setelah perusahaan taksi tempatnya bekerja yakni Yayoi Kotsu Company mendesak para pengemudi untuk meningkatkan keterampilan bahasa Inggris mereka. Karena hal ini kemudian dirinya lantas segera belajar bahasa Inggris agar siap ketika Olimpiade tengah berlangsung.

Namun sayangnya, meski sudah fasih berbahasa Inggris, Olimpiade harus tertunda hingga 2021. Tapi dirinya tak menyesal dan baru-baru ini bahkan menerbitkan materi pelajaran untuk membantu orang lain mengikuti jejaknya.

“Saya tidak pernah belajar ke luar negeri. Terakhir saya ke luar negeri adalah untuk perjalanan keluarga dan saat itu masih menjadi seorang siswa sekolah menengah pertama,” aku Nayakama.

Meski demikian ia tetap terus belajar sendiri dan mencoba berbicara dengan para penumpangnya dengan bahasa Inggris tanpa ragu-ragu. Bahkan salah seorang penumpang memuji dirinya karena lebih baik dari rekan bilingualnya. Dia mengaku saat belajar bahasa Inggris banyak kesulitan yang didapatnya dan akhirnya menemukan babarapa hal yang paling efektif untuk belajar.

Menurutnya salah satu yang bisa membantunya belajar bahasa Inggris adalah dengan membaca percakapan di artikel di majalah dan membaca sub title bahasa Inggri di film atau drama. Bahkan tak segan dia menuliskan ekspresi penting di buku catatan dan membuat rekaman tentang dirinya yang berbicara dalam bahasa Inggris yang kemudian didengarkan berulang kali.

“Mendengarkan adalah yang paling sulit karena penutur bahasa Inggris tidak peduli jika Anda mengerti apa yang mereka katakan. Ada dua alasan mengapa Anda tidak bisa memahami bahasa Inggris dengan lancar: Mungkin Anda tidak tahu arti kata-kata itu, atau Anda tidak memahami suara kata-kata yang terus-menerus,” tambahnya.

“Jika Anda belajar banyak ekspresi dan dapat berbicara bahasa Inggris, keterampilan mendengarkan Anda juga akan meningkat.”

Nakayama berpikir kemampuanya meningkat secara dramatis setelah menggunakan situs web gratis di mana dia mengajar bahasa Jepang kepada penutur asli bahasa Inggris dan, sebagai imbalannya, dia belajar bahasa Inggris dari mereka. Setiap kali dia menyelesaikan pelajaran online, dia merenungkan bagaimana menggunakan ekspresi yang lebih baik, dan kemudian meninjau pelajaran secara penuh.

“Setiap hari saya menikmati pelajaran dan, tentu saja, saya meningkatkan keterampilan saya dengan sangat,” ungkapnya.

Baca juga: Sokong Mobilitas di Olimpiade Musim Panas 2020, Jepang Uji Coba Taksi Otonom Pertama di Dunia

Pembelajar cepat memasukkan sarannya ke dalam tulisan, menerbitkan buku instruksi pada bulan September tentang pengalaman dan metode untuk belajar bahasa Inggris. Pada Oktober 2018, ia berkompetisi dalam “Kontes Omotenashi Inggris (keramahtamahan),” yang diadakan oleh kelompok industri, di mana para kontestan dinilai tentang seberapa ramah mereka dalam memberikan layanan taksi kepada orang asing. Nakayama memenangkan penghargaan tertinggi, mengalahkan penerjemah berlisensi dan orang-orang yang telah belajar di luar negeri.

“Banyak orang Jepang ragu untuk membuat kesalahan karena mereka malu karenanya. Tapi saya tidak peduli,” katanya.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru