Pesawat telah terbukti menjadi moda transportasi paling aman di dunia. Itu semua bukan hanya berkat pemeriksaan dan maintenance ketat dari pesawat itu sendiri melainkan juga dari berbagai aktivitas di darat, salah satunya bagaimana cara bandara mengelola bahaya dari engine thrust pesawat, baik saat idle maupun saat run up atau ngebut di runway.
Baca juga: Ternyata, Pesawat Tak Selalu Ngebut di Runway untuk Bisa Terbang, Ini Alasannya
Sebelum lepas landas, pesawat harus terlebih dahulu didorong (pushback) oleh pushback tractor atau sejenisnya.
Setelah berada pada posisi tepat, pilot mulai menyalakan mesin jet untuk menggerakkan pesawat menuju runway untuk lepas landas. Ini umum disebut sebagai taxiing. Taxiing biasanya dilakukan dengan satu mesin untuk menghemat penggunaan bahan bakar dan menekan polusi karbon dioksida.
Setelah sampai di u-turn atau sampai di ujung landasan pacu, pesawat akan mulai menghidupkan mesin satunya lagi dan mulai ‘menggeber’ atau wake velocity dalam posisi idling tepat sebelum lepas landas. Dalam posisi idling atau idle ini saja, kecepatan putaran mesin mencapai 192 km per jam dengan suhu 38 derajat celcius.
Kecepatan pesawat saat meningkat drastis saat mulai meluncur di landasan pacu. Terkait hal ini, umumnya berbeda-beda berapa kecepatan yang dibutuhkan pesawat untuk bisa lepas landas.
Kita tahu, sebelum mulai memulai penerbangan, pilot dan kopilot biasanya akan bertemu untuk membahas berbagai hal, seperti rute yang dilalui, bahan bakar minimum (bergantung pada jumlah awak, penumpang, kargo, cuaca, dan kemungkinan rintangan selama penerbangan), informasi cuaca, dan informasi bandara tujuan serta bandara yang dilalui sepanjang perjalanan.
#BreakingNews Ground handler accidentally walked behind the running @Saudi_Airlines aircraft engine and was blown away by its thrust. Luckily this guy suffered minor bruises on his head and elbow. #SafetyFirst@WestJet @FlairAirlines @AirCanada @airtransat @SunwingVacay pic.twitter.com/N9pHfcxACo
— INSPIRE 💯 (@pakstartv) June 22, 2019
Dari informasi pra penerbangan, termasuk berat total pesawat ditambah bahan bakar, penumpang dan kargo, serta panjang runway, pilot sudah dibekali dengan kemampuan menghitung berapa kecepatan yang dibutuhkan pesawat untuk bisa lepas landas. Dari sini kemudian diketahui, apakah pesawat perlu melesat dengan kecepatan penuh di runway atau tidak.
Alasan pesawat tak selalu mencapai kecepatan maksimum ketika lepas landas, setidaknya ada tiga. Pertama, untuk mengurangi tingkat keausan mesin. Kedua, efisiensi atau menurunkan biaya operasional. Ketiga, mengurangi kemungkinan kegagalan atau kerusakan mesin.
Umumnya, pilot mulai menarik elevator throttle atau elevator pitch saat pesawat mencapai kecepatan V1 atau sekitar 120-140 knot atau 222 km per jam – 259 km per jam. Tentu saja di kecepatan tersebut menimbulkan suhu yang lebih panas dan engine thrust yang lebih tinggi sehingga membuat bendara di sekitarnya berterbangan. Hal ini yang kemudian membuat proses lepas landas menjadi bahaya dan harus risiko yang timbul harus dikelola oleh bandara.
Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA), seperti dikutip dari Simple Flying, menganalogikan kekuatan angin yang timbul dari engine thrust sebagai badai. Badai sendiri kategorinya ada 1-5. Sedangkan kategori badai yang cocok untuk hembusan angin dari engine thrust pesawat adalah kategori tiga yang berarti cukup merusak struktur diam dan bergerak, seperti bangunan terminal dan pesawat itu sendiri.
Baca juga: Mengapa Sebagian Besar Runway di Bandara Terbuat dari Aspal Bukan Beton?
Karenanya, bandara mengatur agar tak ada struktur berkekuatan ringan atau tinggi di belakang pesawat yang sedang ‘menggeber’ mesin dan run up atau ngebut di runway.
Selain itu, pihak bandara dan ground kru juga melakukan ramp check secarqa berkala setiap pesawat mendarat untuk meminimalisir kerusakan akibat engine thrust.