Bandara Pondok Cabe di Tangerang Selatan sempat diperbincangkan banyak kalangan saat digadang-gadang bakal menjadi bandara komersial. Bandara yang berada di Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan ini disebut akan mendukung operasional Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Soekarno-Hatta yang kala itu sudah kewalahan menghadapi lonjakan penumpang. Di situ, Bandara Pondok Cabe seolah memainkan peran penting dalam mengurai kepadatan lalu lintas udara Jakarta.
Baca juga: Mengenal Bandar Udara Kemayoran, Bandara Internasional Pertama di Indonesia
Setelah beberapa lama, akhirnya, wacana tersebut dimentahkan Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi. Kala itu, dihadapan wartawan, ia menyebut bandara itu berada satu garis lurus dengan Bandara Halim Perdanakusuma. Singkatnya, bila dioperasikan secara komersial, Bandara Pondok Cabe akan mengurangi slot Bandara Halim. Walhasil, impian untuk menempatkan Bandara Pondok Cabe di posisi penting pun kandas.
Akan tetapi, terlepas dari gonjang-ganjing wacana bandara tersebut menjadi penting dengan dijadikan bandara komersial, sebetulnya, sejak era Perang Dunia II, bandara yang memiliki runway berukuran 45 meter x 2.500 meter ini sudah menempati posisi penting bagi pasukan sekutu dalam menahan laju invasi Jepang di Indonesia.
Bukti pentingnya posisi Bandara Pondok Cabe kala itu setidaknya tercermin dari penempatan pesawat tempur sekutu. Tak tanggung-tanggung, jet tempur taktis sekutu, seperti Hawker Hurricane milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris (Royal Air Force/RAF), Vickers Vildebeest, dan bomber torpedo Fairey Albacore, ditempatkan di sini dalam jumlah besar di bawah Skuadron 36 dan Skuadron 100 RAF.
PC Boer dalam bukunya, The Loss of Java (National University of Singapore, 2011), sebagaimana ditukip dari Harian Kompas, menuliskan, Lapangan Terbang atau Bandara Pondok Cabe dulunya pangkalan militer di era Perang Pasifik.
Menurut Boer, untuk menghadapi invasi pasukan Jepang ke Jawa pada 1942, pasukan Sekutu yang tergabung dalam ABDA (America, British, Dutch, Australia) menyiapkan rencana pertahanan udara. Dalam rencana itu disiapkan sejumlah lapangan terbang di bagian barat Jawa, yakni Pondok Tjabe (Pondok Cabe), Tjisaoek (Cisauk), Andir (kini Lanud Husein Sastranegara) di Bandung, dan Tasikmalaya. Masing-masing akan diberi 32 pesawat tempur.
Pondok Tjabe dan Tjisaoek dinilai cocok sebagai tempat perlindungan karena keberadaannya tersamar kerimbunan lingkungan sekitar yang masih rimbun. Pondok Tjabe secara khusus direncanakan menerima dua skuadron pesawat tempur Hawker Hurricane milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris (Royal Air Force/RAF).
Baca juga: Ada Lima Bandara Pionir di Indonesia, Semuanya Buatan Belanda Lho!
Namun, karena Jepang sudah menyerang Sumatera, rencana berubah cepat. Pondok Tjabe menerima 25 unit Hawker Hurricane RAF yang sebagian besar belum siap beroperasi. RAF dan AU Australia (RAAF) juga mereorganisasi skuadron pesawat pengebom mereka setelah mundur dari Malaya dan Singapura. Di masa ini, RAAF menerjunkan CAC Wirraway sebagai pelengkap Hawker Hurricane, Vickers Vildebeest, dan bomber torpedo Fairey Albacore.
Pada akhirnya, Jepang menyerah dan Bandara Pondok Cabe jatuh kembali ke tangan Belanda sampai Agresi Militer Sekutu berakhir pada 1950. Setelah itu, bandara-bandara di Indonesia di nasionalisasi TNI AU, termasuk Bandara Pondok Cabe; yang pada akhirnya membentuk segitiga emas bersama Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Budiarto Curug.
Saat ini, Bandara Pondok Cabe dikenal sebagai home base dari maskapai Pelita Air Service, anak perusahaan PT Pertamina tersebut juga bertindak selaku pemilik dan pengelola bandara. Lain dari itu, Bandara Pondok Cabe juga menjadi pangkalan udara untuk Puspenerbal (Pusat Penerbangan Angkatan Laut), Puspenerbad (Pusat Penerbangan Angkatan Darat) dan Ditpolairud (Direktorat Polisi Air dan Udara)