Semua penerbangan domestik Nigeria bakal ditangguhkan dalam waktu dekat tanpa batas waktu. Hal itu disebabkan karena mahalnya harga Avtur sehingga penerbangan domestik menjadi rugi besar dan sangat tidak menguntungkan. Ini menjadikan Nigeria sebagai negara pertama yang meng-grounded semua pesawat akibat harga bahan bakar pesawat mahal imbas perang Rusia-Ukraina.
Baca juga: Bagaimana Bisa Naiknya Harga Avtur Bakal Rugikan Maskapai dan Penumpang?
Sejak awal Maret lalu, tiket penerbangan di seluruh dunia diprediksi bakal naik dalam beberapa pekan mendatang. Penyebabnya, apalagi kalau bukan perang Rusia dan Ukraina yang mengerek harga minyak global naik, berujung naiknya harga Avtur.
Rusia diketahui memproduksi sekitar 10 persen dari pasokan minyak global, atau sekitar 11 juta barrel per hari. Dari jumlah tersebut, 7 juta barrel di antaraya rutin diekspor ke berbagai negara. Sanksi bertubi-tubi terhadap Rusia sudah pasti berdampak pada harga minyak dunia lantaran suplai terganggu.
Harga minyak mentah berjangka Brent per Jumat lalu untuk pengiriman bulan Juni 2022 berada di level US$112,11 per barrel. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS ada di level US$109,36 per barrel. Ini sudah jauh dari harga normal dikisaran 70-80an dollar per barrel.
CEO Qantas, Alan Joyce, harga tiket pesawat juga akan ada kenaikan sebesar satu persen untuk setiap kenaikan minyak dunia sebesar US$4 per barrel.
Naiknya harga bahan bakar minyak sudah pasti membuat harga Avtur turut naik. Ini tentu akan membuat maskapai serba salah. Menaikkan harga tiket sudah pasti mempengaruhi pilihan penumpang. Tidak menaikkan harga tiket dipastikan rugi. Tetapi, bagaimana bisa kenaikan harga Avtur bakal merugikan maskapai dan penumpang?
Bahan bakar penerbangan atau Avtur adalah satu-satunya biaya operasional terbesar maskapai, antara 30-60 persen dari total pengeluaran rata-rata satu tahun. Hal ini membuat kenaikan harga Avtur signifikan bakal menggerus keuntungan maskapai di setiap flight, yang rata-rata 3-5 persen.
Biaya bahan bakar pesawat atau Avtur, setiap tahun naik 140 persen di Amerika Utara dan 126 persen di Eropa. Namun, saat ini, angka tersebut naik setiap bulan akibat dampak perang Rusia dan Ukraina.
Dilansir aviation24.be, Aliansi Operator Maskapai Penerbangan Nigeria (AON) mengklaim, harga Avtur saat ini naik empat kali lipat dari harga normal. Aliansi yang membawahi sekitar sembilan maskapai di Nigeria itu mengungkapkan, selama beberapa bulan sejak Rusia-Ukraina terlibat perang hingga membuat harga Avtur melonjak tajam, mereka sudah mencoba bertahan.
Baca juga: Kemenhub Restui Maskapai Naikkan Tiket Pesawat 20 Persen dari TBA Gegara Avtur Naik
Akan tetapi, sebagaimana disebutkan sebelumnya, maskapai dihadapi dengan pilihan sulit. Menaikkan harga tiket pesawat membuat penumpang kabur, sedangkan mempertahankan harga tiket membuat kondisi keuangan sulit. Ini pada akhirnya membuat maskapai menyerah untuk sementara sampai jangka waktu yang tidak bisa ditentukan.
Meskipun menjadi produsen minyak terbesar di Afrika, Nigeria diketahui mengimpor hampir semua bahan bakar pesawat atau Avtur.