Friday, April 4, 2025
HomeBandaraApa Itu Microwave Landing System, Instrumen Pendaratan Pengganti ILS

Apa Itu Microwave Landing System, Instrumen Pendaratan Pengganti ILS

Perkembangan teknologi terus terjadi, termasuk di industri pesawat dalam kaitannya dengan pendaratan. Selama puluhan tahun, pesawat mendarat dibanding dengan teknologi Instrumen Landing System (ILS). Namun, belakangan muncul teknologi yang lebih canggih sebagai pengganti ILS, itu adalah Microwave Landing Sytem (MLS). Apa itu dan seperti apa fungsi serta cara kerjanya?

Baca juga: Hari Ini, 89 Tahun Lalu, Bandara Tersibuk di Dunia Mulai Pamer ILS untuk Pendaratan Malam Hari

MLS adalah alat bantu pendaratan non-visual yang digunakan untuk membantu penerbang dalam melakukan prosedur pendekatan dan pendaratan pesawat di suatu bundara. Sebagaimana sistem komunikasi lainnya, MLS juga memiliki blok sistem perangkat pengirim antena pemancar untuk melakukan proses pengiriman informasi.

Seperti ILS, MLS memungkinkan pesawat menentukan posisinya untuk mendarat. Namun, alih-alih menggunakan frekuensi sekitar 109 MHz dan 331 MHz, MLS menggunakan pita lebih dari 5 GHz. Frekuensi gelombang ini akan membantu memungkinkan MLS panduan presisi hingga Kategori III ke pesawat, termasuk autoland, dan memungkinkan pola pendekatan kompleks untuk pesawat sipil dan militer.

Lahirnya MLS tak lepas dari berbagai kekurangan ILS. ILS selama ini diketahui memudahkan pesawat mendarat dengan cara tetap berada di jalur lateral dan vertikal yang benar untuk mendarat dengan aman.

Sayangnya, gelombang azimuth dan glideslope ILS sangat sempit dan dapat terganggu oleh struktur di dekatnya. Kekurangan ini yang pada akhirnya ditutupi oleh MLS. Teknologi MLS memberikan cakupan minimal 40 derajat baik arah lateral landasan pacu dan setidaknya 20 derajat hingga 20.000 kaki secara vertikal. Sinyal jarak presisinya dapat ditransmisikan melalui rentang 200 saluran, lima kali lebih besar dibandingkan dengan ILS.

MLS umumnya terdiri dari empat bagian, yakni enam antena pengirim di bandara, antena penerima di pesawat, control panel di bandara, dan control panel di pesawat. Antena sebagai bagian dari perangkat telekomunikasi nirkabel memiliki peran yang sangat penting ssebagai pengubah energi listrik pada perangkat pemancar menjadi energi yang dapat diradiasikan di ruang bebas dan sebaliknya.

Dilansir Simple Flying, menggabungkan data antar antena membantu memberikan posisi 3D pesawat yang tepat. Karenanya, MLS ini mampu memandu pesawat bersama ATC mendarat dengan selamat dalam berbagai posisi komples, seperti roundabout karena traffic, cuaca buruk, river approach, bridge approach, sea approach, dan lain sebagainya.

Selain sangat membantu pilot dalam mendaratkan pesawat, teknologi MLS juga memudahkan kinerja petugas ATC. Sebelum ada MLS, controller harus memberikan vektor radar secara terus menerus. Namun, kemampuan MLS untuk menyediakan pendekatan untuk pesawat dalam area cakupannya membuat vektor radar tak diperlukan lagi dan menurunkan beban kerja ATC.

Baca juga: Layani Penerbangan Malam, ILS Wajib Terpasang di Runway Bandara

Sayangnya, meski teknologi MLS jauh lebih mapan dibanding ILS, di dunia penggunannya mulai tahun 1980-an tidak terlalu massif. Itu bukan karena teknologi MLS tidak andal, melainkan ada teknologi baru yang lebih canggih, yaitu ground-based augmentation systems (GBAS).

Teknologi GBAS memungkinkan pilot melalukukan approach presisi dengan fleksibilitas tinggi melalui transmisi data GNSS yang telah dikoreksi dari stasiun darat ke pesawat terbang. BTS GBAS saat ini dapat menawarkan pilot dimana saja antara 26 dan 48 approach, termasuk opsi non-linier dari berbagai ketinggian. Saat ini, teknologi GBAS sudah diadopsi di lebih 100 bandara di dunia sekalipun masih dikembangkan.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru