Bicara soal Perusahaan Otobus (PO) Antar Lintas Sumatra (ALS), tak hanya bicara soal perjuangan para awaknya menempuh jarak ribuan kilometer dari ujung Sumatra hingga ujung Jawa. Lebih dari itu, ALS menyimpan kisah menarik perjuangan putra-putri Sumatra mengejar mimpinya.
Baca juga: Sejarah ALS, Perusahaan Otobus dengan Trayek Terjauh Lintas Jawa-Sumatera
ALS berperan besar mengantarkan mereka merantau dari kampung halaman, entah untuk bekerja atau menempuh pendidikan. Lebih dari sekadar mengantar, para awaknya bahkan ikut membantu mereka mencari tumpangan atau memastikan keamanannya ketika sampai di kota tujuan.
Seperti yang diungkapkan Marlina, perempuan yang kini bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di salah satu instansi pemerintah di Jakarta. ALS dan para awaknya punya tempat tersendiri di hatinya sebagai seorang perantau asal Panyabungan, Mandailing Natal.
“ALS yang mengantar aku kuliah sampai sukses di Jakarta. Bapak titip aku ke sopirnya, dijaga betul aku sama dia dan kernet. Makan diajak ikut dia, dianggapnya aku anak perempuan dia, waktu turun di Jakarta aku juga dicarikan bajaj supaya tidak nyasar, berjasa pokoknya,” katanya.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Politisi Partai Demokrat Jansen Sitindaon. Melalui cuitan di akun Twitter dia membagikan pengalamannya berada bersama ALS ketika masih duduk di bangku kuliah puluhan tahun lalu.
“Jd ingat kenangan, berpuluh tahun lalu ketika mahasiswa saya pulang kampung naik ALS Surabaya Medan. 4 hari 4 malam. Di sini juga pertama kali saya tahu film “Con Air” dengan lagu How Do I Live-nya yg romantis itu, karena diperjalanan beberapa kali diputar. Terima kasih untuk babak hidup ini ALS,” tulisnya.
Sementara itu, Joni Sirait, seorang pekerja swasta di Jakarta mengaku punya banyak pengalaman bersama ALS semasa kuliah. Bersama teman-temannya dia kerap mencarter bus tersebut untuk pulang ke kampung halaman di tepian Danau Toba atau kembali ke Bandung ketika liburan kuliah usai.
“Dulu pesawat kan mahal sekali, andalannya ya ALS ini. Kita sewa, borong semua tiket satu bis teman-teman kita semua, seru pokoknya lah. Jangan ngaku anak Sumut atau anak Medan kalau enggak pernah naik ALS!” ujarnya.
Di sisi lain, ALS juga kerap menjadi andalan perantau yang “kalah” atau tidak berhasil untuk kembali ke kampung halamannya. Mereka pulang bermodalkan belas kasihan dari para awak bus. Tentu saja mereka tidak duduk di kursi penumpang, tetapi duduk di tangga atau lantai bus.
Saddam, pengemudi utama atau cincu ALS Bogor-Medan mengaku kerap menemukan orang-orang yang ingin pulang kampung tetapi tidak punya ongkos. Karena kasihan, mereka diizinkan untuk naik dan menumpang sampai tempat tujuannya.
Baca juga: PO ANS, Bagian Tak Terpisahkan dari Tradisi Merantau Urang Awak
“Suka ada yang begitu, biasanya ya bayar semampunya saja, kalau makan kita ajak saja ikut kita. Kasihan juga gagal dia di rantau masa tidak kita bantu,” ujarnya. [Bisma Satria]