Setelah melalui serangkaian tes sejak pertengahan 2018, Airbus Beluga XL akhirnya resmi dioperasikan pada Januari 2020. Pesawat yang mirip dengan paus putih Beluga Arktik tersebut nantinya akan mendukung mobilitas distribusi komponen pesawat Airbus di 11 destinasi, antara lokasi produksi Eropa (Wales, Spanyol serta beberapa negara lainnya) dan jalur perakitan akhir di Toulouse, Prancis; Hamburg, Jerman; dan Tianjin, Cina.
Baca juga: Libatkan 1.500 Perusahaan, Inilah Proses Perakitan Airbus A380 Yang Fenomenal
Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, sebagai pesawat pendukung kebutuhan Airbus yang kini semakin membesar, mengingat kompetitornya (Boeing) sedang dalam kondisi terpuruk, tentu saja Airbus Beluga XL memiliki banyak keunggulan dibanding pendahulunya, Beluga ST . Beluga ST, yang telah beroperasi sejak 1994 silam, hanya mampu mengangkut 45 ton dengan menggunakan pesawat jenis A300-600ST. Sedangkan Beluga XL mampu mengangkut payload enam ton lebih banyak atau 51 ton.
Selain itu, dimensinya yang enam meter lebih panjang (20 kaki atau sekitar 63,1 meter) dan satu kali lebih lebar dari pendahulunya, juga memungkinkan pesawat yang mampu terbang 2.500 mil atau 4.000 kilometer setiap kali perjalanan tersebut mengangkut dua sayap pesawat A350. Sedangkan Beluga ST hanya sanggup menampung satu. Kapasitas yang besar tersebut juga didukung oleh dua mesin Rolls-Royce Trent 700.
Meskipun Airbus Beluga XL masih kalah jauh dari sisi dimensi dan muatan dibanding Boeing 747-8 yang mampu mengangkut 345 ton, desain Airbus Beluga XL yang unik membuat pesawat ini banyak dilirik oleh mitra bisnisnya (Airbus).
Perjalanan Airbus Beluga XL hingga resmi beroperasi secara komersial pada beberapa waktu lalu tidaklah mudah. Setelah pertama kali mengudara di langit Kota Toulouse, Perancis, Juli 2018, serta diikuti serangkaian uji coba untuk mencapai minimal terbang 600 jam, desain Beluga yang kini beroperasi juga harus melewati proses yang alot.
Desain Airbus Beluga XL pertama kali diumumkan pada 2014. Ketika itu, tak banyak perbedaan memang, dari segi dimensi. Namun, dari segi penampilan, desain Airbus Beluga XL jauh lebih mencolok dan menarik perhatian orang. Para insinyur pun akhirnya memberikan enam model desain sebagai pilihan.
Dikutip dari partsolutions.com, setelah melalui tahap voting, desain paus Beluga Arktik yang didominasi warna biru akhirnya mendapat 40 persen atau 20.000 suara yang menjadi suara mayoritas. Meskipun Airbus belum secara resmi mengumumkan berbagai desainnya yang lain, beberapa pengamat menduga Beluga versi pink menempati posisi runner-up.
Baca juga: Goyang Pasar Boeing, Airbus Bakal Bangun Dua Jalur Produksi di Amerika Utara
Dibalik desain imut paus terbang Airbus Beluga, sebetulnya, secara kasat mata, membuat orang awam sempat bingung terkait posisi kokpit pesawat. Terlebih, ketika dahi pesawat terbuka untuk memuat keluar masuk barang. Sebab, posisi kokpit sedikit samar dengan warna hitam yang melintang bagaikan senyum paus putih Arktik.
Hingga kini, Airbus Beluga XL sudah diproduksi sebanyak lima unit. Rencananya, hingga tahun 2023, Airbus akan memproduksi lima pesawat lainnya. Sebagai informasi, harga satu unit Airbus Beluga XL mencapai satu miliar dolar atau sekitar Rp 1,3 triliun.