Malaysia Airlines dalam waktu dekat bakal mempensiunkan enam armada pesawat komersial superjumbonya, Airbus A380. Saat ini, maskapai tengah memikirkan hal terbaik untuk pesawat, entah dijual atau dikirim ke kuburan pesawat begitu saja. Bila opsi kedua yang diambil, tentu itu bukan pilihan terbaik mengingat maskapai butuh lebih banyak suntikan dana, bukan sekedar mengurangi cost maintenance pesawat saja.
Baca juga: Khawatir Pilot Grogi, Malaysia Airlines Intensifkan Latihan Simulator dengan Kacamata 3D
Disarikan dari Reuters dan Simple Flying, sejak insiden kecelakaan MH370 pada 8 Maret 2014 silam, ditambah terjangan virus Corona yang menghancurkan industri penerbangan, bisnis Malaysia Airlines memang kian tak jelas.
Bahkan, sebelum pandemi Covid-19 mewabah di seluruh dunia, Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohamad di sela acara KTT Asia Pasifik ke-33, sudah menyatakan keinginannya untuk menjual maskapai nasional Malaysia tersebut. Jadi, secara keuangan, Malaysia Airlines memang sudah tidak sehat sejak lama.
Karenanya, tak heran bila maskapai akhirnya mempensiunkan pesawat tersebut. Jangankan Malaysia Airlines yang sudah terang keuangannya sedang tidak sehat, maskapai besar dan kaya raya sekalipun juga tak sanggup mengoperasikan A380 dengan pasar yang seperti ini.
“Kami menyadari tantangan untuk menjual pesawat ini, tetapi kami masih mencari cara dan sarana untuk membuang A380 armada kami. Saat ini, manajemen yakin bahwa 380 tidak sesuai dengan rencana masa depan,” kata Group Chief Executive Captain, Izham Ismail.
Malaysia Airlines diketahui memiliki enam armada A380. Seluruhnya direncakan untuk pensiun di bulan-bulan mendatang. Masalahnya hanya soal mau dikemanakan pesawat jumbo tersebut. Pasar pesawat dan suku cadang bekas untuk pesawat tersebut nyatanya memang tak terlalu laris.
Di Teruel, Spanyol, misalnya, sudah ada banyak pesawat Airbus A380 milik British Airways, Lufthansa, Air France, dan Etihad. Namun, hanya tiga yang sudah dibongkar untuk diambil komponen berharganya.
Sebetulnya, bisnis pesawat purna tugas lama-kelamaan semakin diminati. Sebab, 6.000 pesawat dalam 20 tahun mendatang akan mencapai akhir jam terbangnya. Lantas pesawat tua dibuang ke mana? Sebagian mungkin bakal dibuang ke kuburan pesawat di Gurun Mojave, sebagian lagi didaur ulang dan dibuat jadi barang berharga.
Baca juga: Sebelum A380 Lahir, Ternyata Airbus Sempat Mau Bikin Pesawat Ini untuk Lawan Boeing 747
Hal itu dikarenakan pesawat dibuat dari 60 persen alumunium, 15 persen baja, 10 persen logam berharga mahal seperti titanium. Jadi, terlalu sayang untuk dibuang begitu saja, selain untuk menyelamatkan lingkungan.
Bilapun tak ingin dibongkar dan tetap ingin dikaryakan untuk penerbangan lain di luar penumpang, nyatanya itu sangat sulit. A380 tegas ditolak untuk menjadi pesawat kargo oleh sejumlah pihak. Meski demikian, maskapai charter asal Portugal, Hi Fly, nekad menjadikan A380 sebagai pesawat kargo, sekalipun muatannya tidak maksimal. Sedangkan untuk dijadikan jet pribadi, A380 juga dinilai terlalu besar. Praktis, tak ada pilihan lain kecuali membongkar pesawat atau membiarkannya mangkrak.