Saturday, April 5, 2025
HomeAnalisa AngkutanAirbus-Boeing Kompak Ingatkan AS Terkait Bahaya 5G, Pengusaha: Jangan Putar Balikkan Fakta!

Airbus-Boeing Kompak Ingatkan AS Terkait Bahaya 5G, Pengusaha: Jangan Putar Balikkan Fakta!

Dua bos raksasa manufaktur pesawat global, Boeing dan Airbus, kompak memberikan peringatan kepada Amerika Serikat (AS), dalam hal ini Kementerian Transportasi (DoT), terkait bahaya teknologi 5G terhadap industri penerbangan.

Baca juga: Potensi Ganggu Altimeter Pesawat, Kanada Larang Antena 5G di Bandara!

Kekhawatiran tersebut datang setelah raksasa telekomunikasi AS AT&T dan Verizon akan melayani jaringan 5G secara besar-besaran mulai 5 Januari 2022.

Jaringan 5G dinilai dapat menggangu kinerja radar altimeter pesawat, yang berfungsi untuk mengukur ketinggian pesawat dari atas tanah. Radar ini sangat penting dalam memandu pilot saat mendarat.

Sedikit saja perbedaan ketinggian real time dengan yang ada di radar altimeter karena gangguan jaringan 5G atau gangguan lainnya, sudah pasti akan membahayakan penerbangan.

“Teknologi tersebut dapat memiliki dampak negatif yang sangat besar pada industri penerbangan,” kata bos Boeing dan Airbus Americas, Dave Calhoun dan Jeffrey Knittel, dalam sebuah surat untuk Menteri Transportasi AS, Pete Buttigieg, yang dikutip BBC International.

“Interferensi 5G dapat berdampak buruk pada kemampuan pesawat untuk beroperasi dengan aman,” tambahnya.

Dilayangkannya surat itu didasari atas penelitian oleh grup Airlines for America yang menemukan bahwa jika aturan 5G Adminstrasi Penerbangan Federal AS (FAA) berlaku pada 2019, sekitar 345.000 penerbangan penumpang dan 5.400 penerbangan kargo akan mengalami penundaan, pengalihan, atau bahkan pembatalan.

“Airbus dan Boeing telah bekerja dengan stakeholder industri penerbangan lainnya di AS untuk memahami potensi gangguan 5G dengan altimeter radio,” kata Airbus dalam sebuah pernyataan.

“Aviation Safety Proposal untuk mengurangi potensi risiko telah diajukan untuk dipertimbangkan ke Departemen Transportasi AS,” tambahnya.

FAA sendiri sudah mengakui bahaya dari jaringan 5G terhadap keselamatan penerbangan dan karenanya mereka menunda peluncuran jaringan 5G AT&T dan Verizon dari semula bulan November lalu menjadi 5 Januari tahun depan.

Pendapat Airbus, Boeing, dan FAA yang menyatakan bahwa jaringan 5G berbahaya terhadap keselamatan penerbangan karena bisa mengganggu kinerja radar altimeter, tentu saja ditentang pengusaha.

Presiden dan CEO Asosiasi Industri Telekomunikasi Seluler (CTIA), Meredith Attwell Baker, menuding bahwa pendapat tersebut memutarbalikkan fakta. Lebih lanjut, Baker juga menyebut bahwa penelitian yang menjadi dasar argumen tersebut cacat.

Faktanya, lanjut Baker, sudah hampir 40 negara, termasuk Jepang dan Denmark, menggunakan spektrum C-Band pada jaringan 5G dan tidak ada masalah pada penerbangan atau radar altimeter sebagaimana yang ditakut-takuti oleh industri penerbangan.

“Di beberapa negara ini, sinyal 5G beroperasi dalam spektrum yang berdekatan dengan peralatan penerbangan. Maskapai penerbangan AS terbang masuk dan keluar dari negara-negara ini setiap hari. Jika gangguan mungkin terjadi, kita akan melihatnya jauh sebelumnya,” kataya kepada Morning Consult.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) sendiri tak ingin gegabah dan memihak dalam polemik keamanan jaringan teknologi 5G terhadap industri penerbangan. Mereka justru mendorong diskusi yang lebih solutif dalam menyelesaikan polemik ini.

Baca juga: FAA Akui Jaringan 5G Ancam Keselamatan Penerbangan

“Waktu hampir habis sebelum jutaan pelancong udara dan publik pelayaran mengalami gangguan signifikan seperti penundaan penerbangan, pembatalan penerbangan, dan cadangan ke rantai pasokan yang sudah tertekan,” jelasnya dalam sebuah pernyataan.

“Kami memohon kepada Federal Communications Commission (FCC), FAA, dan NEC (Dewan Ekonomi Nasional) untuk melanjutkan diskusi yang bermakna dengan itikad baik dan untuk mengidentifikasi mitigasi dan mencapai rencana implementasi yang berhasil yang akan memastikan teknologi 5G baru dapat hidup berdampingan dengan aman dengan industri penerbangan,” tutupnya.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru