Isu keretakan (crack) yang menimpa Boeing 737 NG beberapa waktu yang lalu sejatinya semakin menenggelamkan nama Boeing yang di-plot sebagai Raja Kedirgantaraan Global – disusul oleh Airbus yang mulai menyeimbangi dan menyalip perlahan posisi dari manufaktur pesawat asal Negeri Paman Sam ini. Pertanyaannya adalah, “Bagaimana sebuah pesawat bisa mengalami keretakan? Apakah retakan itu membahayakan suatu penerbangan?”
Baca Juga: Boeing Digoyang Masalah (Lagi), Kini Ditemukan Retakan pada Seri 737 NG
Ilustrasi Sederhana
Selayaknya benda yang memiliki jangka hidupnya masing-masing, tidak terkecuali pesawat juga memiliki fungsi layaknya tubuh manusia. Jika kita memforsir pekerjaan atau suatu aktivitas, maka tubuh akan menjadi lelah – dan bisa menjadi sakit akibat kelelahan tersebut, terlebih jika tidak dibarengi dengan check up ke dokter.
Ilustrasi serupa juga sama halnya seperti yang dialami oleh si burung besi, dimana ketika sebuah pesawat sudah melakukan banyak penerbangan dengan mengangkut beban yang tidak hanya penumpang saja, maka beragam ‘penyakit’ siap mengintai – salah satunya adalah crack ini. Kurang lebih gambaran sederhananya seperti ini.
Nah, di sektor kedirgantaraan global, crack ini muncul karena setiap material yang digunakan untuk membangun pesawat memiliki tingkat ketahanan waktunya sendiri atau yang dikenal sebagai material fatigue. Ini sudah menjadi hal yang lumrah terjadi di setiap benda mati dan isu crack seperti ini sempat booming di era tahun 1960-an.
Kasus Crack di Penerbangan Dunia
Faktanya, keretakan yang masuk ke dalam klasifikasi kegagalan struktural pesawat ini pernah mengakibatkan kecelakaan – seperti yang menimpa de Havilland DH.110 yang terbang pada 1952 di Farnborough Airshow, pesawat Douglas DC-6 yang dioperasikan oleh National Airlines Flight 470 pada 1953, serta pesawat de Havilland Comet yang digunakan maskapai BOAC (kini British Airways) Flight 781 dan maskapai South African Airways Flight 201.
Pihak maskapai maupun manufaktur pesawat kala itu tidak mengetahui apa yang menyebabkan pesawat-pesawat tersebut mengalami kecelakaan, hingga muncullah nama BJ. Habibie yang membawa angin segar di tengah ketidak-tahuan mereka akan crack. Pria yang akrab disapa ‘eyang’ semasa hidupnya ini kala itu tengah ikut dalam project pengembangan Airbus A300B dan berbarengan dengan itu, lahirlah crack propagation theory.
Baca Juga: N-250, Pesawat Komuter Fly By Wire “Asli” Indonesia yang Kandas Tersapu Krisis Moneter
Eyang Habibie dan Crack Propagation Theory
Crack Propagation Theory ini merupakan model matematika untuk memprediksi perilaku perambatan retak pada struktur pesawat hingga tingkat atom. Temuan Eyang Habibie ini dapat digunakan untuk menghitung dan memprediksi titik retak, hingga sebuah materi dapat diperkuat dengan lebih presisi.
Setelah titik crack dihitung, derajat keselamatan dapat diturunkan dengan mengurangi campuran material sayap dan badan pesawat. Kendati beban berkurang, titik crack justru mampu meningkatkan kinerja pesawat.
Kendati sudah menemukan jawaban atas salah satu misteri terbesar di sektor aviasi kala itu, namun Eyang Habibie enggan berjumawa begitu saja. Dirinya terus mengembangkan teori ini hingga dipatenkan dan diadopsi untuk kemajuan teknologi kedirgantaraan. Lambat laun, orang menyebut ilmu penghitungan crack ini dengan sebutan “Teori Habibie”.