Naik kereta api saat ini sudah bisa dirasakan dengan kecepatan maksimal 120 km per jam, sudah menjadi salah satu pelayanan yang baik untuk mempersingkat waktu. Termasuk perjalanan pada KRL juga sudah bisa berlari dengan kecepatan maksimal 90 km per jam jalur Jatinegara-Bekasi.
Nah, saat kereta api lakukan pengereman, pasti merasakan aroma tak sedap atau bau seperti ada yang terbakar saat berhenti. Ternyata penyebab aroma bau tersebut saat pengereman ada pada kampas rem yang terlalu panas selama pengereman berat.
Sistem pengereman kereta api sendiri dibedakan menjadi 2, yaitu:
1. Pengereman mekanis. Sistem ini menggunakan perangkat pengereman dasar mencakup rem roda-tapak, rem cakram yang dipasang di gandar, dan rem cakram yang dipasang di roda. Tekanan yang diberikan disesuaikan untuk mengontrol gaya pengereman dengan menggunakan objek yang menerapkan gesekan pada disk.
2. Sistem pengereman elektrik. Sistem ini biasa digunakan oleh kereta listrik. Prinsipnya mengubah mengubah motor menjadi generator pengereman yang menghilangkan energi kinetik sebagai panas.

Berdasarkan hal tersebut, maka sulit untuk menerapkan upaya pengereman penuh dengan memaksa rem mengunci roda agar berhenti ketika ada kendaraan lain yang tanpa sengaja berada di jalur lintasannya. Apalagi gesekan antara roda baja dan rel baja pada KA sangat lah jauh lebih rendah daripada gesekan antara jalan beton aspal dengan ban karet kendaraan jalan raya.
Oleh karenanya, tekanan pengereman pada KA sengaja dilepaskan secara perlahan dan bertahap agar efeknya terasa merata ke sepanjang gerbong. Apabila tekanan dilepaskan secara penuh dan tiba-tiba, maka dapat menyebabkan pengereman yang tidak seragam sehingga menyebabkan rem bekerja lebih dulu dari titik keluarnya udara. Pengereman yang tidak seragam ini justru akan menyebabkan kecelakaan yang lebih besar. Yakni roda dapat tergelincir dan anjlok dari rel hingga gerbong pun terguling.
Kembali pada penjelasan kenapa rem kereta api bisa berbau, hal tersebut disebabkan oleh bantalan rem yang memanas hingga suhu ekstrem. Kondisi ini dapat menyebabkan material bantalan mengkristal atau “mengkilap”.
Jika tidak dilakukan pengecekam secara berkala, resiko besar yang akan dihadapi pada rangkaian kereta api terutama pada roda akan berasap bahkan mengeluarkan percikan api. Saat ini kereta api di Indonesia sendiri meski telah menambah kecepatan hingga maksimum 120 km per jam, pastinya sudah diperhitungkan saat roda bergerak dan saat pengereman termasuk kampas rem yang bertahan cukup lama jika sewaktu-waktu terjadi pengereman yang tak biasa.
Tak Bisa Berhenti Seketika, Ternyata Sistem Pengereman Kereta Dipengaruhi Banyak Faktor