Saturday, March 1, 2025
HomeAnalisa AngkutanSengkarut Industri Galangan Kapal Lokal, Lebih Efisien Impor dari Luar?

Sengkarut Industri Galangan Kapal Lokal, Lebih Efisien Impor dari Luar?

Sektor transportasi laut baru-baru ini mendapat sorotan setelah Wakil Ketua Umum II Indonesian National Shipowners’ Association (INSA), Darmadi GO, menyebutkan bahwa biaya mengimpor kapal dari luar negeri itu lebih murah ketimbang merakit sendiri di Indonesia. Kendati terkesan memiliki tone ‘negatif’, namun Darmadi mengatakan ada 3 faktor utama yang melatarbelakangi statemennya tersebut.

Baca Juga: Momen Langka! Tiga Kapal Pesiar Internasional Sandar di Pelabuhan Benoa

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnbcindonesia.com, Darmadi mengatakan bahwa kapasitas, harga dan waktu perakitan menjadi 3 faktor utama mengapa galangan kapal lokal perlahan ditinggalkan. Ia juga mengatakan bahwa industri galangan kapal lokal kurang memiliki daya saing dengan industri serupa di luar negeri, dalam kasus ini Darmadi mengambil contoh Cina. Menurutnya, ada banyak hal yang harus dibenahi agar industri galangan kapal lokal memiliki standar baku internasional.

“Kita belajar dari China kenapa bisa cepat dan murah? Kenapa kita lambat kita harus bicara realita. Semua dari China iya lah, semua murah,” ujar Darmadi dalam acara Indonesia Maritime Talk 2025.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Capt. Antoni Arif Priadi mengatakan bahwa ada faktor tambahan terkait melemahnya industri galangan kapal di Indonesia, yaitu soal kepastian hukum. “Pengusaha kita lebih senang membangun kapal di luar negeri, dibandingkan di dalam negeri. Faktanya kepastian tidak jelas, dan biaya mahal,” kata Capt. Antoni di kesempatan yang sama.

Imbasnya, Capt. Antoni mengambil contoh ada 8 usaha galangan kapal di Batam yang gulung tikar akibat para pelaku usaha lebih memilih membeli kapal dari luar negeri.

Salah satu galangan kapal di Batam. Sumber: istimewa

Menurut Capt. Antoni, dibutuhkan dukungan regulasi yang jelas, kepastian hukum, hingga kemudahan usaha dalam upaya membangun sektor maritim. Dengan begitu, industri galangan kapal bisa lebih efisien saat membangun kapal di dalam negeri. Untuk itu, ia mengatakan bahwa pihaknya dan pemangku kepentingan terkait akan segera turun tangan mengatasi ancaman tersebut. Industri galangan kapal yang ada sekarang ini adalah aset sebagai upaya mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) Ikhsan Mahyudin seolah tidak bisa berdalih dan mengatakan bahwa industri galangan kapal tengah tertekan karena pengenaan PPN pada bahan baku. Hal ini yang menyebabkan tingginya biaya produksi.

“Kita beli barang pakai PPN, itu jadi cost, kemudian saya beli plat, itu ada cost masuknya.” pungkas Ikhsan di kesempatan yang sama.

Diketahui bahwa poros industri maritim dunia, terutama pembuatan kapal, kini telah bergeser ke Asia. Sebagai salah satu negara yang ada di dalamnya, Indonesia diharapkan bisa segera berbenah agar bisa industri maritimnya bisa disejajarkan dengan negara maju lain seperti China dan Korea Selatan. Pesatnya industri ini juga ditopang oleh posisi strategis Asia dalam perdagangan global. Diketahui, China, Korea Selatan, dan Jepang saat ini menguasai lebih dari 85% industri pembuatan kapal global.

Akibat Galangan Bangkrut, Kapal Pesiar Terbesar di Dunia “Global Dream II” Terpaksa di Scrap Sebelum Sempat Berlayar

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru