Mesin jet pesawat modern bekerja berdasarkan prinsip kompresi, pembakaran, dan ekspansi. Udara masuk melewati beberapa tahap kompresi tekanan rendah dan tekanan tinggi. Tenaga yang dihasilkan mesin jet sangat kuat, begitupun juga hembusan angin hasil dari pembakarannya. Karenanya, terdapat peringatan power hazard area di bandara, dalam hal ini di apron. Lantas, apa itu power hazard areas?
Baca juga: Begini Jurus Bandara Kelola Bahaya Engine Thrust Pesawat
Dilansir dari berbagai sumber, power hazard areas di bandara merujuk pada tenaga besar mesin yang dihasilkan, baik saat di apron atau di ramp, taxiway atau saat taxiing, runway, sampai area sekitar bandara.
Mengingat bahaya besar yang timbul dari mesin pesawat, regulator dan insinyur mengatur sedemikian rupa agar segalanya tetap aman. Mulai dari adanya beacon lights sampai tanda spiral di spinner mesin pesawat.
Beacon lights sendiri akan dinyalakan sebelum mesin pesawat dinyalakan dan akan dimatikan sebelum mesin pesawat dimatikan saat berada di apron. Mungkin bisa dibilang bahwa lampu ini merupakan penanda bahwa suatu pesawat tengah berada dalam waktu operasi.
Sebelum pesawat pushback, banyak aktivitas di ground dan melibatkan banyak kru lintas departemen. Mengingat besrnya kekuatan mesin jet saat dinyalakan, ini berbahaya bagi mereka. Karenanya, sebelum mesin jet dinyalakan pilot, petugas di sekitar pesawat harus diberi isyarat agar waspada dan menjauh melalui beacon light.
Sedangkan tanda spiral di mesin pesawat memiliki fungsi penanda bahwa mesin tersebut tengah bekerja atau berputar, sehingga petugas di ground agar menjauh dari pesawat.
Di nacelle mesin pesawat sendiri, terdapat tanpa peringatan atau power hazard areas bahwa radius 4,2 meter yang membentuk setengah lingkaran di depan mesin adalah bahaya. Demikian juga dengan di belakang mesin pesawat, dengan hazard areas yang lebih kecil.
Karenanya, truk pengisi bahan bakar, truk katering, service, ground controller, dan lain sebagainya, diposisikan sedemikian rupa agar tetap aman dan berjauhan dari mesin, kecuali mesin dalam keadaan mati.
Knalpot pesawat juga termasuk dalam hazard areas. Meski mesin sudah dimatikan, namun panas knalpot masih membahayakan petugas yang melakukan pengecekan, sebelum pesawat kembali terbang.
Sebelum lepas landas, pesawat harus terlebih dahulu didorong (pushback) oleh pushback tractor atau sejenisnya.
Setelah berada pada posisi tepat, pilot mulai menyalakan mesin jet untuk menggerakkan pesawat menuju runway untuk lepas landas. Ini umum disebut sebagai taxiing. Taxiing biasanya dilakukan dengan satu mesin untuk menghemat penggunaan bahan bakar dan menekan polusi karbon dioksida.
Saat sampai di u-turn atau sampai di ujung landasan pacu, pesawat akan mulai menghidupkan mesin satunya lagi dan mulai ‘menggeber’ atau wake velocity dalam posisi idling tepat sebelum lepas landas. Dalam posisi idling atau idle ini saja, kecepatan putaran mesin mencapai 192 km per jam dengan suhu 38 derajat celcius.
Baca juga: Seperti Pesawat, Runway dan Taxiway Bandara Juga Rutin Diinspeksi
Kecepatan pesawat saat meningkat drastis saat mulai meluncur di landasan pacu. Biasanya, kecepatan lepas landas mencapai 230 -250 km per jam dan menghasilkan suhu panas mencapai 93 derajat celcius.
Itu sebab, power hazard areas juga terdapat di luar bandara karena panas yang dihasilkan mesin pesawat tadi, mulai dari taxiing sampai lepas landas dan mendarat. Ini biasanya menimbulkan kebakaran hutan atau kebakaran kilang atau benda diam lainnya.