Bagi penumpang pesawat yang sering bepergian dan memperhatikan sekitar, pasti kerap melihat mayoritas landasan pacu (runway) bandara terbuat dari aspal, bukan beton. Padahal, beton jauh lebih kuat menahan beban pesawat yang mencapai ratusan ribu sampai jutaan pon dibanding aspal. Kenapa demikian? Kenapa runway tidak dibuat dari beton saja?
Baca juga: Tahukan Anda, Aspal Runway 10 Kali Lipat Lebih Kuat Dibanding Aspal Jalan Raya!
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, diketahui runway setidaknya dibangun dengan empat pondasi, mulai dari tanah dasar (sub grade), lapisan pondasi bawah (sub base course), lapisan pondasi atas (base course), lapisan permukaan (surface course).
Antara landasan pacu, cross taxiway, parallel taxiway, dan apron diketahui memiliki ketebalan aspal atau beton yang berbeda-beda.
Di bagian atas permukaan, aspal atau beton runway harus berkualitas tinggi, seperti tak bisa ditembus air serta mampu memperbesar daya dukung lapisan terhadap beban roda pendaratan.
Perihal dipakainya beton atau aspal di bagian atas permukaan, menurut salah seorang pengguna Quora, Ryan Lee Jackson, suatu runway bandara diputuskan menggunakan aspal atau beton tergantung dari wilayah di sekitar dan lapisan di bawah runway itu sendiri.
Bandara Svalbard, Norwegia, misalnya, memiliki satu landasan pacu yang terbuat dari aspal. Kenapa diputuskan menggunakan aspal, bukan beton? Jawabannya adalah lapisan di bawah runway itu sendiri yang terdapat banyak permafrost atau tanah beku.
Sekalipun berada di lingkar kutub utara, ada kalanya lapisan es mencair. Saat itu terjadi, pondasi akan mengikuti. Mengingat lapisan permafrost mencair tak merata, maka runway menjadi bergelombang dan pada membuatnya rusak. Apapun lapisan atas runway terbuat, entah itu beton atau aspal, kondisi tersebut pasti membuat runway rusak.
Bedanya, bila runway dibuat dari beton, itu akan lebih sulit dan mahal untuk diperbaiki dibanding aspal yang murah dan mudah diperbaiki.
Kebalikan dari kondisi di atas, seperti Bandara Houston, misalnya, yang notabene tanah di bawah runway jarang atau hampir tidak pernah bergerak, membuatnya diputuskan landasan pacunya menggunakan beton.
Selain itu, dipakainya beton sebagai lapisan atas runway adalah karena cuacanya yang kering dan panas. Di kondisi itu, aspal akan melunak dan membuat roda atau bandara pesawat terperosok atau amblas.
Secara teori, beton lebih banyak digunakan di bandara-bandara besar. Itu karena beberapa alasan, mulai dari lebih awet dan tidak gampang rusak serta lebih kuat dalam menahan besaran beban friksi atau tumbukan atau tekanan dari roda pesawat.
Tekanan pada ban pesawat terhadap permukaan runway saat ini memang sudah jauh berkurang seiring banyaknya roda di pesawat. Prispinya, semakin banyak roda semakin, semakin banyak bobot pesawat yang terdistribusikan ke roda, sehingga mengurangi beban yang diberikan setiap ban di landasan pacu atau taxiway.
Kendati begitu, tetap saja kembali ke teori bahwa landasan pacu dari beton lebih kuat dibanding dari aspal.
Baca juga: Mengapa Ban Pesawat Sekarang Lebih Kecil Dibanding Ban Pesawat Lawas?
Landasan pacu aspal diketahui hanya sanggup menahan beban di bawah 12.500 pound berat lepas landas kotor. Sedangkan landasan pacu yang terbuat dari beton bisa menahan beban di atas itu.
Di dunia, terdapat beberapa pesawat yang memiliki bobot cukup besar. Boeing 747-8, misalnya, memiliki bobot maksimum 975.000 pound. Pesawat terbesar di dunia, Antonov An-225 Rusia diketahui memiliki bobot hingga 1,4 juta pound. Selain jadi pesawat terbesar, itu juga dinobatkan menjadi pesawat terberat di dunia.