Sunday, April 6, 2025
HomeDestinasiKetika Terbang Tanpa Masker Diizinkan, Haruskah Khawatir Terular Covid?

Ketika Terbang Tanpa Masker Diizinkan, Haruskah Khawatir Terular Covid?

Baru-baru ini, hakim federal AS menangguhkan mandat masker pada transportasi umum termasuk penerbangan. Ini kemudian membuat beberapa masakapai besar di AS seperti Delta, United dan Southwest menjadikan masker sebagai pilihan penumpang untuk digunakan atau tidak.

Baca juga: Tolak Pakai Masker dan Serang Pramugari, Penumpang Pesawat Dibayangi Denda Nyaris Rp1 Milyar

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mencoba untuk memperpanjang mandat masker yang awalnya dimaksudkan untuk berakhir pada hari Senin (18/4/2022) menjadi awal Mei karena kekhawatiran atas varian BA.2 Omicron yang dominan, yang menyebabkan meningkatnya kasus Cocid di AS.

Dilansir KabarPenumpang.com dari fortune.com (19/4/2022), industri penerbangan berpendapat bahwa terbang sebenarnya lebih aman daripada bentuk aktivitas dalam ruang lain seperti makan. Selain itu sebagian karena sistem penyaringan tingkat tinggi pesawat yang dapat menghilangkan tetsan yang membawa virus corona.

Menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), sistem penyaringan pesawat memperbarui udara di dalam kabin setiap tiga menit sekali, yang kira-kira sepuluh kali lebih sering daripada sirkulasi udara di gedung perkantoran. Tetapi sistem penyaringan efektif pesawat meninggalkan bahaya tertular Covid dari udara yang belum disaring.

Untuk penumpang, itu mungkin berasal dari kontak dengan tetesan udara dari seseorang yang dekat, seperti penumpang tetangga atau seseorang yang bepergian ke dan dari bagian pesawat yang berbeda. Pesawat juga mematikan sistem filtrasinya selama naik dan turun pesawat, serta selama pemberhentian pengisian bahan bakar dalam perjalanan.

Periode-periode ini adalah titik ketika sebagian besar penumpang cenderung bergerak di sekitar pesawat saat mereka menangani barang bawaan mereka, yang dapat meningkatkan risiko penularan. Selain itu, sistem filtrasi mungkin tidak sebaik selama bagian lain dari proses perjalanan udara, seperti saat penumpang berbaris di jembatan jet yang menghubungkan gerbang bandara ke pesawat.

Masker yang digunakan penumpang memiliki dua tujuan, yakni mencegah pembawa Covid yang akan menularkan virus ke orang lain. Selain itu juga melindungi pemakainya dari penularan Covid dari orang lain. Masker berbeda dalam hal tingkat perlindungannya, terutama mengenai varian Covid yang lebih menular seperti Omicron, dengan masker N95 memberikan perlindungan paling banyak dan masker kain memberikan perlindungan paling sedikit.

“Karena sulitnya menentukan bagaimana dan kapan seseorang dalam penerbangan mungkin tertular Covid, kami tidak memiliki gambaran yang jelas tentang betapa mudahnya tertular Covid di pesawat. Namun beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa penggunaan masker pada penerbangan memang membantu mencegah penularan, setidaknya di awal pandemi,“ ujar IATA.

Sebuah studi pada September 2020 tidak menemukan kasus penularan dalam penerbangan jarak jauh oleh Emirates dari Dubai ke Hong Kong. Studi lain, dari Maret 2021, memperkirakan bahwa mengizinkan layanan makan satu jam selama penerbangan 12 jam maka kemungkinan infeksi sebesar 59 persen dibandingkan dengan skenario ketika masker tetap dipakai selama penerbangan.

Baca juga: easyJet Tambah Daftar Maskapai yang Izinkan Penumpang Lepas Masker di Pesawat

Namun, penelitian ini dilakukan sebelum varian Omicron yang lebih menular muncul. Pada bulan Desember, kepala penasihat medis IATA memperkirakan bahwa penumpang memiliki kemungkinan dua hingga tiga kali lebih besar untuk terkena Omicron di pesawat dibandingkan dengan varian Covid sebelumnya.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru