Seperti yang terjadi di Australia, Dewan Perwakilan Maskapai di Jerman – Board of Airline Representatives in Germany (BARIG) mulai bersuara ‘keras’ atas kondisi penerbangan yang terjadi di Negeri Bavaria. Melihat tren positif penerbangan yang tengah terjadi di lingkup internasional, BARIG menyerukan pemulihan akses penerbangan, terutama untuk penerbangan jarak jauh.
Baca juga: Australia Canangkan Buka Penerbangan (Penumpang) ke Luar Negeri pada Desember
Dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (21/10/2021), BARIG yang menganungi industri maskapai yang beroperasi di Jerman, mengeluhkan bahwa meningkatkanya tren perjalana saat liburan di musim gugur masih terganggu oleh beragam aturan yang tidak konsisten di berbagai negara.
BARIG menyebut pendekatan negara bagian yang tidak terkoordinasi (di Jerman) dalam proses rantai perjalanan, seperti aturan masuk dan keluar atau deklarasi area berisiko. Ditambah kurangnya transparansi menyebabkan proses layanan yang jauh lebih kompleks, yang memerlukan lebih banyak waktu dan biaya yang lebih tinggi bagi pihak maskapai dan wisatawan. Oleh karena itu, BARIG meminta para politisi yang bertanggung jawab untuk mendukung harmonisasi kondisi perjalanan yang sangat dibutuhkan.
Sekretaris Jenderal BARIG Michael Hoppe menyatakan, “Kebebasan bepergian dan mobilitas tidak hanya hak paling dasar dari seseorang, tetapi juga memainkan peran yang sangat penting dalam pemulihan ekonomi nasional. Oleh karena itu, adalah tepat untuk membuka kembali perbatasan secara berurutan mengingat upaya sebelumnya yang baik dan berhasil dalam memerangi pandemi.” Ia menambahkan, kurangnya koordinasi di antara berbagai negara dan negara bagian memperlambat peningkatan perjalanan, dengan konsekuensi yang sesuai bagi masyarakat dan ekonomi.
Meski sebatas menyerukan, berikut adalah tuntutan dari komunitas maskapai di Jerman,
– Aturan masuk dan keluar wiayah Jerman yang terkoordinasi.
– Pengakuan yang selaras atas sertifikat vaksinasi, pemulihan, dan pengujian deklarasi dan risiko.
– Aturan yang terkoordinasi dan penyeragaman untuk perjalanan antar negara di Uni Eropa dan negara ketiga seperti Cina, India, dan lainnya
Jerman selama ini dikenal ketat dalam melakukan pencegahan penyebaran virus Corona. Tetapi, lambat laun negara tersebut mulai membuka diri dari dunia luar. Hanya saja tak semua negara diizinkan masuk ke Jerman.
Dilansir schengenvisainfo.com, Jerman diketahui hanya mengizinkan wisatawan asal Austria, Australia, Cina, Faroe Islands, Greenland, Finlandia, Islandia, Irlandia, Israel, Malta, Selandia Baru, Norwegia, Portugal, Singapura, Korea Selatan, Spanyol, dan Thailand. Tak ada nama Indonesia di sana.
Baca juga: Ngenes, Jerman Larang Masuk Wisatawan Indonesia, Padahal Singapura dan Thailand Boleh
Setiap wisatawan dari negara-negara tersebut setidaknya wajib menunjukkan hasil negatif tes PCR selama 48 jam terakhir sebelum tiba di Jerman. Tak hanya itu, mereka juga diwajibkan untuk menjalani karantina mandiri selama 10 hari.