Kapal ferry RoRo biasanya hanya melakukan perjalanan yang tidak jauh, bila di Indonesia biasanya kapal ferry jenis ini digunakan untuk menyeberang Selat seperti Selat Sunda, Selat Bali dan lainnya. Nah bagaimana jika ada kapal ferry RoRo yang biasa digunakan untuk melintasi selat atau penyeberangan tak jauh ini justru melintasi berbagai benua, negara dan lautan?
Baca juga: KRI Tanjung Kambani 971, Kapal Ferry RoRo dengan Cita Rasa Militer
Mungkin Anda akan berpikir tidak akan ada, tetapi nyatanya kapal ferry RoRo yang melintasi jarak terjauh pernah ada yakni Lusitania Expresso. Bahkan Lusitania Expresso pernah akan ditenggelamkan oleh TNI Angkatan Laut. Kok bisa? Pasti pertanyaan itu timbul dibenak Anda.
Ternyata kapal buatan 1964 yang memiliki bobot 1612 ton tersebut, mengabaikan peringatan Indonesia karena rencana pelayarannya ke Dili. KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, Lusitania Expresso merupakan kapal ferry RoRo yang berbendera Portugal.
Lusitania Expresso bertolak dari Pelabuhan Lisabon di Portugal menuju ke Dili, Timor Timor untuk acara tabur bunga di pemakaman pasca terjadinya kerusuhan Santa Cruz beberapa bulan sebelumnya. Ketika itu tahun 1992, kapal ferry ini mengangkut 73 aktivis dari 21 negara dan 59 wartawan Internasional.
Sebelum melakukan tabur bunga, Lusitania Expresso transit di Darwin Australia dari Vasco Dagama dan berencana membawa mantan presiden Portugal. Niatnya setelah transit kapal tersebut akan melanjutkan ke Dili tetapi pimpinan misi tidak mendapat dukungan Sekjen PBB yang dihubungi dalam perjalan tersebut.
Bahkan ketika mencoba menghubungi Sekjen PBB, Lusitania Expresso dihadang tiga kapal perang TNI AL yang tergabung dalam Operasi Aru Jaya. Awalnya sebelum dihadang ternyata kapal dengan panjang 72 meter dan memiliki luas 13 meter tersebut sudah diintai oleh frigat KRI Yos Sudarso 353 bersama korvet KRI Ki Hajar Dewantara-364 sejak berlayar memasuki Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia atau ZEEI.
Saat itu dua kapal TNI AL itu hanya bisa membayang-bayangi tanpa bisa menindak sebab sesuai ketentuan hukum internasional yang mana semua kapal bebas berlayar di daerah tersebut. Namun, pesawat intai maritim TNI AL Nomad N-21 yang mencarinya di perairan internasional setelah Lusitania Expresso meninggalkan Pelabuhan Aju Darwin di Australia.
Karena hal inilah ketika Lusitania Expresso posisinya diketahui, korvet Ki Hajar Dewantara yang berpatroli di Laut Timor menyalakan mesin turbin, berlayar ngebut sepanjang malam menyonsong Lusitania di ZEEI. Kemudian menyusul fregat KRI Yos Sudarso, kapal perang kelas Van Speijk dengan senjata andalannya, peluru kendali Exocet.
Seperti tak mengindahkan peringatan, kapal dengan panjang 73 meter dan lebar 13 meter itu terus melaju dan mereka seperti menguji nyali kapal-kapal perang TNI AL. Peringatan dilakukan karena saat itu Indonesia dan Portugal tengah bermusuhan akibat integrasi Timor Timor menjadi provinsi ke-27 Indonesia.
Baca juga: Francisco, Kapal Ferry Wisata dengan Kecepatan 51,8 Knot!
Kapal yang namanya diganti bedhes atau anak monyet oleh para pelaut TNI AL pada 11 Maret 1992 akhirnya berhasil memasuki perairan teritorial Indonesia. Lusitania Expresso dibuat oleh galangan Trondhjems Mekaniske Verksted di Norwegia yang mana dulunya dikenal dengan Roslagen Spervik 1. Status Lusitania Expresso sendiri saat ini laid up atau secara teknis berarti kapal tersebut untuk sementara diberhentikan operasionalnya.