Boeing 737 MAX 8 milik Ethiopian Airlines jatuh enam menit setelah lepas landas dan menewaskan 157 orang didalamnya. Pesawat dengan nomor penerbangan ET302 tersebut jatuh di dekat kota Bishoftu 62 km tenggara ibukota Addis Ababa saat hendak melakukan penerbangan menuju Nairobi. Pesawat Boeing 737 MAX 8 ini menukik tajam pada ketinggian delapan ribu kaki dan mengingatkan akan insiden Lion Air PK-LQP pada Oktober 2018 lalu di Laut Jawa.
Baca juga: Pesawat Canggih Boeing 737 Max 8 Lion Air Jatuh Perairan Tanjung Karawang, Ini Dia Spesifikasinya!
Atas insiden ini, seorang pakar penerbangan yang juga pejabat Ombudsman Indonesia, Alvin Lie menuntut agar pemerintah tidak menerbangkan semua pesawat Boeing 737 Max 8 yang masih beroperasi untuk maskapai Indonesia setelah pesawat Ethiopian Airlines jatuh pada Minggu (10/3/2019) kemarin. Dia mengatakan Kementerian Perhubungan harus memperhatikan kecelakaan terakhir di Ethiopia, karena pesawat yang terlibat dalam kecelakaan itu adalah model yang sama dengan yang jatuh di Indonesia pada akhir Oktober tahun lalu
“Kementerian Perhubungan harus siap untuk sementara menurunkan semua Boeing 737 MAX 8 yang masih beroperasi di Indonesia untuk mencegah lebih banyak kecelakaan,” kata Alvin yang dikutip KabarPenumpang.com dari thejakartapost.com.

Saat ini pihak maskapai masih melakukan investigasi awal untuk mengetahui penyebab dari kecelakaan dan mencari tahu apakah ada kesamaan dengan kejadian Lion Air di Indonesia. Ethiopian Airlines mengatakan para penyelidiknya, Otoritas Penerbangan Sipil Ethiopia dan Otoritas Transportasi Ethiopia akan melakukan penyelidikan bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan termasuk produsen pesawat Boeing untuk menentukan penyebabnya.
Dilansir dari washingtonpost.com (10/3/2019), situs pelacak penerbangan asal Swedia, Flightradar24.com men-tweet pada hari Minggu bahwa data yang tersedia menunjukkan bahwa kecepatan vertikal ET302 tidak stabil setelah lepas landas. Dalam kecelakaan tersebut pihak Boeing mengatakan memiliki tim teknis yang siap memberikan bantuan sesuai arahan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat.
Pihak maskapai sendiri mengatakan, pesawat dikemudikan oleh seorang pilot berpengalaman, Yared Getachew. Saat itu dari keterangan maskapai, pilot mengatakan mengalami kesulitan dan ingin kembali sebelum kehilangan kontak dengan kontrol lalu lintas udara. Analis penerbangan mengatakan mereka sedang menunggu hasil akhir dari penyelidikan maskapai Indonesia dan menjelaskan bahwa hasilnya dapat berdampak negatif bagi bisnis Boeing. Bahkan atas kejadian ini, FAA berencana untuk membantu dalam penyelidikan kecelakaan itu.
“FAA memonitor perkembangan kecelakaan Ethiopia Penerbangan 302 dini hari tadi. Kami berhubungan dengan Departemen Luar Negeri dan berencana untuk bergabung dengan NTSB dalam bantuannya dengan otoritas penerbangan sipil Ethiopia untuk menyelidiki kecelakaan itu,” ujar pihak FAA.
Kecelakaan ini membuat beberapa organisasi pilot Amerika Serikat mengkritik Boeing setelah mengungkapkan bahwa mereka telah membuat perubahan tertentu pada perangkat lunak autopilot MAX 8 itu dengan menambahkan fitur kontrol penerbangan baru Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS). Perangkat lunak yang diperbarui dimaksudkan untuk memperhitungkan perubahan desain pada 737 MAX dan seharusnya membuat pesawat beroperasi sedekat mungkin dengan model 737 yang lebih tua meskipun memiliki mesin yang lebih besar ditempatkan lebih jauh ke depan pada sayap pesawat.
Sementara sistem MCAS seolah-olah ditambahkan untuk membuat pesawat lebih aman, serikat pilot di Amerika Serikat mengatakan mereka dibiarkan tidak tahu tentang pembaruan perangkat lunak dan mengkritik Boeing karena gagal menutupi sistem baru dalam sesi pelatihan. Seorang juru bicara Boeing tidak menanggapi pertanyaan tentang apakah perusahaan telah memperbarui sistem MCAS setelah kecelakaan pesawat di Indonesia.
Dennis Tajer, juru bicara Allied Pilots Association, sebuah serikat yang mewakili pilot di American Airlines, mengatakan eksekutif Boeing awalnya mengatakan kepada anggotanya bahwa perusahaan tersebut telah melihat potensi masalah desain perangkat lunak, tetapi mereka belum menerima kabar tentang apakah sistem tersebut telah berubah. Dia mengatakan pilot di American Airlines masih belum memiliki simulator penerbangan yang mencerminkan pembaruan ke MAX 8.
“Kami belum diberi penjelasan tentang perubahan pada perangkat lunak pada saat ini,” kata Tajer.
Garuda Indonesia memiliki satu Boeing 737 MAX 8 sementara Lion Air memiliki 14 pesawat seri Boeing 737 MAX, termasuk MAX 8 yang jatuh tahun lalu. Menurut situs web Boeing, perusahaan, per 31 Januari, telah menerima 5.111 pesanan pesawat seri Boeing 737 MAX, dan telah mengirim 350 ke berbagai maskapai di seluruh dunia.
Baca juga: Setelah MPV Everest Gagal, Justru KRI Spica 934 Berhasil Temukan CVR Lion Air JT-610
Maskapai ini telah menerima pesanan 50 seri MAX dari Garuda Airlines, tetapi hanya mengirimkan satu, MAX 8 pada 2017. Situs web berita penerbangan flightglobal.com melaporkan bahwa perusahaan telah menunda pengiriman 49 sisanya hingga 2020. Lion Air telah memesan 201 seri MAX dan Boeing telah mengirimkan 14 di antaranya sejak 2017.