Tinggal menunggu hitungan bulan, masyarakat Indonesia, khususnya warga Jakarta akan kedatangan satu moda transportasi yang berbasis massal yang selama ini sudah dinanti-nanti. Ya, MRT Jakarta! Direncanakan rilis pada bulan Maret 2019, sejumlah sentuhan akhir tengah digenjot William Sabandar cs. demi melancarkan pengoperasiannya kelak.
Dalam acara Forum Jurnalis dan Blogger PT MRT Jakarta yang diadakan pada Kamis (29/11/2018), perusahaan yang berkolaborasi dengan pihak Jepang ini mengizinkan media untuk meliput bagian dalam dari stasiun bawah tanah Dukuh Atas, setelah pada beberapa kesempatan sebelumnya mengunjungi stasiun bawah tanah Senayan.
Pada kesempatan tersebut, William Sabandar selaku Direktur Utama PT MRT Jakarta memaparkan bahwa pembangunan MRT Jakarta Fase 1 secara keseluruhan telah menyentuh angka 97,52 persen, dengan rincian depo dan elevated section 96,90 persen dan underground section 98,15 persen.
“Untuk stasiun Dukuh Atas sendiri, desainnya agak unik, karena ada plazanya. Ini sengaja dibangun karena diperkirakan akan ada interaksi penumpang yang cukup tinggi di stasiun ini,” papar William.
“Stasiun ini sendiri memiliki dua entrance, yang satu dekat dengan Stasiun BNI City, sedangkan yang satunya lagi akan terkoneksi dengan Gedung UOB,” tandasnya kepada KabarPenumpang.com dan awak media lainnya.
View this post on Instagram
Sementara itu, lanjut William, kesiapan operasional MRT Jakarta sudah berada di level 78,24 persen. Selama ini juga MRT selalu mengatakan akan berpihak pada penyandang disabilitas. Jika di dalam armada MRT Jakarta sudah disediakan space untuk penyandang disabilitas, pun dengan di stasiunnya. Akah ada tactile paving yang ditujukan kepada penyandang tunanetra.
“Kami juga memberikan pelatihan penanganan terhadap penyandang disabilitas kepada petugas-petugas di lapangan nanti,” tambah William.
Lebih lanjut, ia juga memaparkan ke depannya, penamaan stasiun MRT Jakarta juga akan beragam – tidak menggunakan nama berdasarkan daerah tempatnya berdiri.
“Kami juga melakukan e-auction untuk penamaan beberapa stasiun, jadi misalkan ini stasiun ex Dukuh Atas atau yang lain, nanti tergantung dari penawaran mana yang terbaik,” jelasnya.
Baca Juga: Bakal Isi Area Belanja di Stasiun MRT Jakarta, Inilah 15 Peritel yang Telah Terpilih
Pada kesempatan yang sama pula, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim menanggapi persoalan tentang ojek online yang kerap kali ‘menghiasi’ setiap stasiun Commuter Line Jabodetabek. Silvia mengatakan PT MRT Jakarta akan mengambil kebijakan untuk menggunakan lahan tidak terpakai sebagai titik drop off dan pick up penumpang ojek online – sehingga tidak menimbulkan kemacetan.
“Ambil contoh di depan Poin Square Lebak Bulus ada lahan yang bisa dimanfaatkan sebagai lahan mengambil dan menurunkan penumpang online,” jelasnya singkat.