Saturday, April 5, 2025
HomeDaratKokoh Layaknya Seekor Gajah, "Terowongan Gunung Gajah" Masih Eksis Dilintasi Kereta

Kokoh Layaknya Seekor Gajah, “Terowongan Gunung Gajah” Masih Eksis Dilintasi Kereta

Kabupaten Lahat penuh pesona dan bersejarah, memiliki hamparan situs megalitikum, air terjun hingga peninggalan bersejarah lainnya dari masa penjajahan dulu yang kini menjadi nuansa tersendiri di Kota tua ini. Tak hanya itu, Lahat sendiri menjadi salah satu kota sentral di dunia perkeretaapian untuk kawasan Sumatera Selatan.

Baca juga: Hanya Cerita yang Tersisa dari Terowongan KA Wilhelmina di Pangandaran

Di kota ini ada sesuatu yang unik dan berkaitan dengan jalur perkeretaapian, dimana ada sebuah terowongan yang nama belakangnya diambil dari nama seekor binatang yakni gajah. Nah, mendengar gajah, yang ada di benak pastinya terowongan ini besar dan kokoh seperti gajah.

KabarPenumpang.com yang merangkum dari berbagai sumber dan menemukan bahwa terowongan tersebut sebenarnya memiliki nama Willem Synja Tunnel, nama ini diambil dari arsitek pembuatnya yang berasal dari Belanda yakni Willem. Namun, karena terowongan ini berada di Kelurahan Gunung Gajah, sehingga masyarakat sudah melupakan nama aslinya dan lebih sering menyebut terowongan Gunung Gajah.

Terowongan yang dibangun tahun 1924 dan selesai satu tahun kemudian yakni 1925 kini menjadi terowongan tua di Kabupaten Lahat sendiri. Selain itu terowongan ini sempat ditutup dan dibuka lagi tahun 1952. Terowongan ini menjadi yang terpanjang kesepuluh di Indonesia dengan memiliki panjang 368 meter. Bangunannya memiliki nilai seni tersendiri dimana goresan keindahan arsitek Belanda berpadu dengan kekokohan bangunannya.

Tak hanya sebuah terowongan, di sana berdiri Balai Yasa atau disebut juga Bengkel Kereta Api yang dibangun pada 1931 dan hingga sekarang masih digunakan. Terowongan Gunung Gajah juga tak luput dari mitos yang berkembang dan meninggalkan aura mistis didalamnya. Hal ini dikarenakan banyak korban jiwa saat pengerjaan pembuatan terowongan dengan sistem kerja rodi di masa penjajahan Belanda.

Baca juga: Di Sawahlunto, Ternyata Juga Ada Museum Kereta Api

Walaupun dengan kemajuan teknologi transportasi, terowongan yang pernah tertutup longsor pada Januari 2016 lalu ini bukan berarti tak dapat digunakan lagi. Justru masih tetap eksis. Sebab menjadi terowongan dan satu-satunya jalur perlintasan kereta api yang masih digunakan untuk menghubungkan Kabupaten Empat Lawang di kota Tebing Tinggi dan Lubuk Linggau.

Tahu kan kenapa nama Gunung Gajah tak tergantikan untuk menjadi nama terowongan ini selain karena diambil dari nama di satu tempat?

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Yang Terbaru