Waspadai Gejala Microsleep, Inilah Antisipasi Rujukan dari KNKT

Sumber: Plukme!

Menempuh perjalanan panjang sendiri menggunakan kendaraan pribadi memang satu hal yang sangatlah membosankan, terutama Anda dipaksa untuk melewati sebuah jalan tol yang notabene memiliki medan yang hanya lurus saja. Secara tidak langsung, kondisi jalanan tersebut mempengaruhi kondisi Anda ketika berkendara, bukan tidak mungkin Anda akan terserang fenomena Microsleep.

Baca Juga: Ketua KNKT: Depnaker Perlu Turun Tangan Tinjau Jam Kerja Pengemudi Shuttle

Dari namanya saja, sepertinya Anda semua sudah bisa menebak fenomena apakah ini. Ya, dilandaskan pada siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), fenomena microsleep merupakan sebuah kondisi dimana otak tidur tapi tubuh tetap beraktifitas. Dengan kata lain, microsleep adalah momen dimana hilangnya kesadaran dan perhatian karena merasa lelah dan mengantuk.

Durasi dari microsleep ini sendiri beragam, mulai dari satu hingga 30 detik sebelum akhirnya terjaga kembali, itupun kalau Yang Maha Kuasa masih memberikan kesempatan ia untuk bangun kembali. Dengan menjadikan kelelahan sebagai salah satu faktor utama terjadinya fenomena microsleep, maka tidak heran jika KNKT selalu menghimbau kepada setiap pengendara yang hendak berkendara menggunakan kendaraan pribadi atau pengemudi bus untuk selalu menjaga ketahanan tubuhnya.

KNKT sendiri mengatakan ada beberapa gejala yang ditimbulkan seseorang yang mulai terserang fenomena microsleep. “Mulai dari kecepatan yang tidak teratur ketika mengemudi, sering ngerem mendadak, tubuh yang tiba-tiba tersentak, kepala yang sering mengangguk, menguap, hingga mata yang sering berkedip,” ujar Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono. Semua gejala yang disebutkan oleh suksesor dari Tatang Kurniadi tersebut merupakan tanda-tanda kalau otak si pengemudi sudah harus segera diistirahatkan.

Tapi tidak sedikit dari mereka yang malah mengindahkan himbauan untuk menepi sejenak dan beristirahat. Kebanyakan dari para pengemudi ini lebih memilih untuk terus mengemudi dalam kondisi mengantuk, padahal seperti yang sudah kita ketahui bersama, mengemudi dalam kondisi mengantuk sangatlah berbahaya bagi keselamatan orang banyak.

Maka dari itu, selain menghimbau untuk tidak melanjutkan berkendara ketika tubuh sudah merasakan lelah, Soerjanto turut membocorkan beberapa langkah yang dapat mengantisipasi terjadinya fenomena microsleep. “pastikan jam tidur terjaga, sekitar tujuh hingga sembilan jam sebelum berkendara, lalu pengemudi bisa berhenti setiap empat jam sekali dalam kondisi jalan lancar atau macet sekalipun,” tutur Soerjanto.

Baca Juga: Tidak Dapat Ongkos Losmen, Pengemudi Bus Mudik Gratis Kalang Kabut

Selain pola hidup yang mesti diperbaiki, asupan makanan dan minuman pun ternyata dapat mempengaruhi ketahanan tubuh. “konsumsi kopi justru disarankan, namun berikan jarak waktu sebelum mengemudi,” paparnya. “Selain itu, pengemudi juga bisa melakukan aktivitas kecil ketika berkendara, agar tidak cepat capek.” tutup Soerjanto.