PT Industri Kereta Api Indonesia atau yang lebih dikenal dengan PT INKA baru saja meneken kontrak dengan salah satu perusahaan kereta api asal Taiwan. Diketahui, Taiwan Rolling Stock co. (TRSC) yang merupakan sebuah produsen kereta api pertama di negara tersebut menjalin kerja sama dengan PT INKA dalam pembangunan bersama sebanyak 400 unit kereta listrik multi-unit berbahan dasar stainless steel (EMUs).
Baca Juga: PT INKA, Kepercayaan Dunia Dalam Industri Kereta di Dalam Negeri
Hal inilah yang melatarbelakangi kedatangan pimpinan besar dari TRSC, Tsai Huang-Liang ke Indonesia baru-baru ini. Seperti yang disarikan KabarPenumpang.com dari laman focustaiwan.tw (22/7/2017), pihak TRSC melihat PT INKA kurang begitu familiar dengan teknologi body stainless steel, sehingga mereka memutuskan untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan yang bermarkas di Hukou, Hsinchu, Taiwan ini.
“Kami TRSC telah menandatangani nota kesepakatan dengan PT INKA terkait kerja sama dalam proyek tersebut, termasuk soal harga yang dikenakan, semuanya sudah tercantum di dalam nota kesepakatan ini,” ungkap Tsai. Jika pihak PT INKA setju dengan harga yang ditawarkan oleh pihak TRSC, maka rencananya kedua belah pihak akan menandatangani kontrak secara resmi di bulan Agustus ini.
Baca Juga: Hadirkan Sleeper Train, Siapkah PT KAI Hapus Bayangan “Masalah” Sosial KA Bima?
Terlepas dari semua rencana awal, badan kereta akan dibuat di Taiwan. Setelah selesai, menurut Tsai, kerangka kereta tersebut akan dibawa ke Indonesia untuk dirakit. Tsai pun mengaku kerjsa sama ini merupakan sebuah kesempatan emas bagi TRSC untuk bisa mempromosikan sebuah kebijakan baru, yaitu New Southbound Policy. Ini merupakan inisiatif Pemerintah Taiwan di bawah Presiden Tsai Ing-wen untuk meningkatkan kerjasama dan pertukaran antara Taiwan dan 18 negara lain di Asia Tenggara, Asia Selatan dan Australia.
Selain itu, tujuan lain dari kerja sama ini adalah untuk membantu Indonesia dalam mengembangkan industri perkeretaapiannya, yang pada gilirannya kelak diharapkan akan menghasilkan peluang untuk menjalin kerja sama dengan negara-negara Asia lainnya. Ini menjadi sebuah tanda tanya besar bagi sebagian kalangan, mengapa Indonesia lebih memilih produk impor dari luar negeri dalam memenuhi kebutuhan keretanya, padahal PT INKA sudah dipercaya oleh beberapa negara di luar sana.
Baca Juga: Jelang ASIAN Games 2018, Palembang Datangkan LRT Produksi PT INKA
Sebut saja ketika PT INKA merakit lokomotif pertamanya pada tahun 1996, GE Lokindo yang langsung mendapat respon positif dari beberapa negara, salah satunya adalah Filipina. Lalu pada tahun 1998, PT INKA kembali mengekspor salah satu mahakaryanya yang berwujud gerbong barang untuk mengangkut beragam komoditas, Ballast Hopper Wagon ke Thailand. Namun melihat isu ini, otoritas sempat membatasi impor kereta dari Jepang dan Cina dan lebih mengedepankan PT INKA dalam penyediaan fasilitasnya kelak.