Terdampak Sterilisasi Pelabuhan, Eksistensi Anak Pemburu Koin Kian Pudar

Anak koin atau anak pemburu koin, atau populer juga dengan sebutan silem sudah menjadi pemandangan khas di Dermaga Ferry Pelabuhan Merak sejak beberapa dekade silam, tidak diketahui persis kapan munculnya atraksi yang mengundang adrenalin ini. Dan faktanya tak hanya di Merak,  di beberapa pelabuhan Nusantara, aksi anak koin telah melekat dengan keberadaan anak-anak yang bermukim di perkampungan kawasan pelabuhan.

Anak pemburu koin dalam aksinya akan berebut uang yang dilemparkan para penumpang dari deck kapal ke laut, tentunya ini dilakukan saat kapal sedang sandar, terutama saat kapal sedang dalam proses loading. Meski atraksi anak koin lumayan menghibur, risiko yang dihadapi anak-anak usia sekolah ini sangat besar, insiden yang mengakibatkan luka serius sampai meregang nyawa cukup banyak dijumpai. Tak heran kemudian ada peraturan ketat dari ortoritas pelabuhan untuk membatasi ruang gerak anak-anak tersebut naik ke atas kapal.

Baca juga: Pelabuhan Bojonegara, Mungkinkah Jadi “Pesaing” Pelabuhan Ferry Merak?

KabarPenumpang.com merangkum dari beberapa sumber, faktanya bukan hanya sekedar menghibur, anak koin tidak menerima koinnya begitu saja. Karena mereka akan meminta kepada penumpang saat berada di atas kapal, jika penumpang meleparkannya ke laut, maka anak-anak tersebut akan terjun untuk mengambil koin. Tak ayal setelah menemukan koin, mereka akan menunjukkan kepada si pemberi sebagai ucapan terimakasih telah diberikan koin.

Mereka juga tidak pernah takut, sebab setiap melompat, tidak pernah terlihat raut muka takut. Fakta lainnya, anak koin ini juga perenang yang tangguh dan penyelam yang handal.

Kenapa? karena untuk mendapatkan koin yang dilempar penumpang mereka harus bisa berenang menyaingi teman-teman yang lainnya. Selain itu, untuk menemukan uang koin yang mungkin tenggelam ke air, mereka menyelam tanpa alat bantu sama sekali. Ya, ini menjadi catatan bahwa mereka harus memiliki kemampuan pernafasan yang baik. Belum lagi seperti di Pelabuhan Merak, penglihatan anak di bawah permukaan air sangat terbatas, lantaran warna air yang keruh.

Dari beberapa kasus, sebenarnya mereka bukanlah penganggu, tetapi pekerjaan menjadi anak koin sangatlah berbahaya. Anak koin bisa saja sewaktu-waktu terepeleset saat akan melopat dan badan mereka menghantam kapal atau tersedot baling-baling kapal yang bisa menghancurkan tubuh mereka. Tidak sekali dua kali, ditemukan anak koin yang tewas akibat terpeleset yang mengakibatkannya tewas. Sebelum adanya kejadian anak koin ini tewas pun, pemerintah sudah melakukan pelarangan adanya anak-anak yang mencari koin.

Baca juga: Mengenal Pelabuhan Merak, Gerbang Penyeberangan Tersibuk di Indonesia

Dengan adanya Permenhub Nomor 29 Tahun 2016 Tentang Sterilisasi Pelabuhan Penyeberangan, maka pelabuhan seperti halnya bandara, harus steril dari orang-orang yang tidak berkepentingan sesuai dengan aturan yang berlaku. Indra Setiawan, Deputy Branch Manager PT Mata Pensil Globalindo Cabang Merak menyebutkan, “Dengan penerapan sistem automatic ticketing bagi kendaraan dan penumpang, plus sterilisasi pelabuhan, aksi anak koin di Pelabuhan Merak sudah tidak banyak seperti dulu.” Namun Ia mengaku bahwa masih ada beberapa anak koin yang nekat menerobos masuk. “Jika ketahuan akan langsung diminta pergi oleh petugas keamanan, umumnya mereka masuk melalui gate motor atau dermaga lima. Masalah ini memang sudah mendapat penanganan serius karena mengancam keselamatan,” ujar Indra Setiawan kepada KabarPenumpang.com.

Meski paling kondang di Pelabuhan Merak, aksi anak koin juga dapat Anda jumpai di Pelabuhan lain, seperti Bakauheni, Gilimanuk dan Ajibata di Parapat, Sumatera Utara.