Tak Disangka! Snack Kacang Nyaris Mengundang Maut di Penerbangan Ini

Kiri ke Kanan: Chris, Marcus, dan Hong Daley. Sumber: abc.net.au

Baru-baru ini, dunia aviasi kembali menjadi sorotan publik setelah orang tua dari balita di Melbourne mendesak semua pihak maskapai penerbangan untuk memberhentikan layanan kacang gratis selama perjalanan. Tuntutan ini dilayangkan setelah anak mereka mengalami reaksi alergi yang berpotensi fatal ketika mereka tengah mengudara.

Baca Juga: Mulai Alergi Kacang Hingga Abu Jenazah, Inilah Deretan Peraturan Unik di Maskapai

Chris dan Hong Daley tengah melakukan perjalanan pulang dari Thailand pada 12 Juli lalu meminta pihak maskapai Singapore Airlines untuk tidak menyajikan kacang kepada si buah hati, Marcus, karena ia mengidap anaphylaxis. Anaphylaxis adalah reaksi alergi yang menyerang lebih dari satu fungsi organ tubuh yang bisa menyebabkan kematian.

Layanan kacangpun diganti dengan makanan lain, namun keluarga kecil tersebut tidak menyangka bahwa penumpang lain tetap mendapatkan kacang sebagai camilan mereka. Secara mengejutkan, ratusan bungkus kacang seolah dibuka secara bersamaan dan mengakibatkan ruangan kabin dipenuhi oleh bau kacang. Chris, yang ternyata merupakan seorang dokter spesialis pernapasan kemudian mengatakan anaknya mulai merasakan sesuatu yang tidak beres tak lama berselang setelah ratusan bungkus kacang tersebut dibuka.

“Dia lalu mulai muntah, matanya mulai bengkak, dan ia tidak bisa berbicara dengan jelas,” kenangnya seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman abc.net.au (17/7/2017). Untungnya, keluagra tersebut sudah membawa obat anti alergi dan empat buah pens of adrenaline yang mampu mengurangi efek dari alergi tersebut. Ini adalah kali pertama Marcus diberi obat semacam itu dengan cara menyuntikkannya di bagian kaki untuk mengobati alerginya tersebut.

Baca Juga: Kenali Jenis Makanan Khusus dalam Penerbangan

Melihat kejadian itu, orang-orang yang berada di dekat keluarga Daley mulai merasakan ketakutan yang sama mana kala Marcus mengalami kejang-kejang. “Bahkan keluarga di belakang kami tidak hentinya meminta maaf karena ia merasa bersalah sehingga alergi Marcus kambuh,” terang Hong. Kejadian tersebut berlangsung ketika pesawat baru mengudara sekitar satu jam, yang artinya masih menyisakan enam jam perjalanan lagi untuk tiba di Melbourne.

Namun, Chris mengatakan situasi sudah mulai terkendali dan menganggap perjalanan tersebut sudah aman untuk anaknya. Chris juga mengkhawatirkan kejadian ini menimpa penumpang lain di penerbangan lainnya, karena kondisi tersebut bisa saja berubah menjadi lebih buruk ketika tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

Kejadian hampir serupa juga pernah dialami oleh rekan sesama dokter Chris, dimana ia mengalami reaksi alergi terhadap kacang. Ia mengeluhkan kejadian tersebut di laman jejaring sosial Facebook Singapore Airlines untuk memberhentikan layanan kacang gratis tersebut. Memang, pihak maskapai bisa menghentikan layanan tersebut, namun mereka mengaku tidak bisa mengendalikan apa yang penumpang bawa.

Baca Juga: Sajian Makanan di Pesawat Wajib Ekstra Bumbu, Inilah Alasannya!

Kembali ke kasus keluarga Daley, Hong lalu melayangkan gugatan resmi kepada pihak maskapai untuk memberhentikan layanan kacang gratis tersebut. “Yang harus mereka lakukan hanya menyudahi melayani kacang. Masih banyak makanan ringan lainnya yang bisa disajikan,” ungkap Hong. Menanggapi gugatan tersebut, pihak maskapai mengaku akan menindaklanjutinya. “Untuk memastikan tidak ada insiden lebih lanjut, kru kami akan menangguhkan pelayanan kacang di kabin kelas ekonomi untuk sisa penerbangan,” ujar juru bicara Singapore Airlines.