Sophia, Robot Humanoid yang Gagal Makan Malam dengan Perdana Menteri Ethiopia

Sophia robot humanoid (Quartz)

Robot humanoid sosial yang dikembangkan oleh Hason Robotics yang berbasis di Hong Kong harus melewatkan makan malamnya dengan Perdana Menteri Ethiopia. Robot humanoid artificial intelligence (AI) dengan nama Sophia yang terkenal ini diketahui tiba di Ethiopia pada hari Jumat (29/6/2018) lalu.

Baca juga: RADA! Robot Berteknologi Artificial Intelligence di Bandara Indira Gandhi

KabarPenumpang.com melansir dari laman africanews.com (30/6/2018), Sophia yang tiba di Ethiopia harusnya dijadwalkan bertemu dengan PM Ethiopia Abiy Ahmed untuk makan malam. Sayang saat berada di Bandara Frankfurt menuju ke Addis Ababa, tas berisi beberapa bagian dari Sophia hilang.

Sementara saat itu sebenarnya Sophia ingin sekali makan malam dengan Abiy. Tetapi Getahun Merkuria, Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Ethiopia mengatakan, Sophia masih akan muncul di MCIT Internasional Expo meski gagal bertemu dengan PM Abiy.

Manager Icogs Labs, Getnet Asefa menjelaskan bahwa Sophia bisa diperbaiki dan mereka menemukan bagian-bagian alternatif untuknya. Sophia sendiri diaktifkan pada 19 April 2015 lalu dan hadir pada penampilan perdananya di publik saat di South by Southwest Festival (SXSW) pertengahan Maret 2016 di Austin, Texas, Amerika Serikat.

Sophia diketahui mampu menghadirkan 50 ekspresi wajah. Selain itu, robot AI ini juga telah diprogram untuk berbicara bahasa Amharik yang merupakan bahasa resmi Ethiopia dan menjadi bahasa pertama yang digunakan selain bahasa Inggris.

Sophia merupakan robot pertama dalam sejarah yang mendapat penghargaan kewarganegaraan Arab Saudi. Kulit yang digunakan pada robot humanoid ini dari kulit organik maupun non organik.

Baca juga: Bandara Munich Gandeng Lufthansa Hadirkan Robot Humanoid Untuk Bantu Penumpang

Pada tubuhnya tepatnya bagian mata, Sophia mampu mengenali wajah manusia karena dipasangi kamera. Robot ini pun telah di program untuk melakukan percakapan tanpa menggunakan naskah dan mampu mengumpulkan data emosional dalam membentuk hubungan emosional dengan manusia.

Pada bulan Oktober 2017, Sophia menjadi robot pertama yang menerima kewarganegaraan dari negara mana pun. Pada bulan November 2017, Sophia dinobatkan sebagai Juara Inovasi pertama dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan orang pertama yang tidak diberi gelar Perserikatan Bangsa-Bangsa.